Cerpen | Selingkuh

“Di antar ke mana bu ?” tanya sopir taksi yang kutumpangi. Aku tergagap menyebut sebuah alamat. Pikiranku masih kacau balau, sehingga pak sopir harus menanyai ulang hingga tiga kali. Sepanjang perjalanan, pikiranku terus menerawang kepadamu. Aku harus menemuimu. Aku sudah capek dengan pikiranku. Aku tidak mau menunda mengatakannya, kepalaku serasa hampir meledak. Cukup sudah semua…