Cerpen | Selingkuh

cbjslpvuaaavohm-5802cd9b8623bda60bd634b5
Resto Di Tebing Ilustrasi Source : Yukpiknik,com

“Di antar ke mana bu ?” tanya sopir taksi yang kutumpangi.

Aku tergagap menyebut sebuah alamat. Pikiranku masih kacau balau, sehingga pak sopir harus menanyai ulang hingga tiga kali.

Sepanjang perjalanan, pikiranku terus menerawang kepadamu. Aku harus menemuimu. Aku sudah capek dengan pikiranku. Aku tidak mau menunda mengatakannya, kepalaku serasa hampir meledak. Cukup sudah semua kepura-puraan dan basa basi.

“Aku ingin menemuimu” bunyi texting ku padanya tadi

“Mau apa ?” balasnya

“Ada sesuatu yang harus kutanyakan” aku terburu-buru membalas hingga cangkir tehku nyaris tersenggol tumpah

“Baiklah. Kutunggu di sini saat jam makan siang”, balasnya sambil mengirim sebuah foto resto. Aku tahu tempat itu. Resto kecil nyaris di ujung kota, di tepi sebuah tebing, sangat jauh dari rumahku. Tapi memiliki view alam yang luar biasa indah serta makanan yang lezat. Tempat ideal untuk bertemu. Tidak terlalu ramai, jadi kami pasti bisa bicara dengan nyaman.

Nyaris sejam perjalanan ke sana. Turun dari taksi angin sepoi sepoi pegunungan menyambutku. Di pelataran hanya ada dua buah mobil, satunya sangat kukenal, mobil dia. Dengan langkah tergesa aku masuk ke resto. Dia sudah datang, duduk dengan tenang di kursi, di outdoor resto. Pilihan pas, itu juga tempat favoritku. Tidak ada pengunjung lain di sini. Heran, biasanya selalu ada satu dua orang pengunjung meskipun memang resto ini tak pernah ramai kecuali akhir pekan

Dia berdiri melihat aku datang. Senyumnya terkembang. Tangannya memberi kode mempersilakan aku duduk. Lalu melambai ke pelayan. “Green tea nut coffee, itu saja“ jawabku ke pelayan yang mengangguk lalu pergi.

“Kau tidak makan ?”

Aku menggeleng. Aku ke sini bukan untuk makan, kataku dalam hati. Dia menatapku, raut wajahnya terlihat tenang, tapi ada tanya di sorot matanya.

“Ada apa ? Hal begitu penting apa sehingga harus ketemu?”

Aku menatapnya lekat lekat, mencoba mencari tahu terlebih dahulu suasana hatinya.

“Boleh aku bicara sekarang ?”. Dia mengangguk.

“Betulkah kau mencintaiku ?” akhirnya keluar juga kata-kata itu. Entah berapa lama sudah aku menyimpannya.

Dia nampak sangat terkejut. Wajahnya menegang. Jika ternyata dia membantah aku sudah siap. Kupertaruhkan harga diriku sebagai wanita. Biarlah, yang penting aku beroleh kejelasan.

Perlahan nampak dia bisa menguasai diri. “Kenapa tiba-tiba bertanya begitu ?” Dia tersenyum. Matanya menatapku.

“Entahlah…kata-katamu….entahlah….jawab sajalah” aku kehilangan kata-kata,

“Tidak tahu bagaimana harus menjelaskan. Ini semacam….semacam sebuah proses berpikir yang sangat lama dan tiba-tiba aku memperoleh kesimpulan seperti itu” kalimat berantakan muncul begitu saja dari mulutku.

“Kau baru tahu ?” jawabnya singkat sambil tak melepas senyum. Aku terbelalak. Jantungku serasa berhenti berdegup. Apa aku tak salah dengar ?

“Sejak kapan ? Kenapa kau diam saja ? Kenapa kau tidak pernah bicara padaku ?” tanyaku beruntun.

Dia nampak menghela nafas panjang. Berusaha betul menata perasaannya. Lelaki selalu begitu. Ingin terlihat cool sekalipun ada badai besar di hatinya.

“Sejak kita bertemu pertama kali di kampus. Aku….aku jatuh hati padamu saat itu. Kita sudah lama kenal. Tapi saat kuliah itulah aku mulai menaruh hati”

Aku terduduk lemas. Itu nyaris 15 tahun yang lalu. Tanpa kusadari air mataku bergulir. Dia menghampiriku dan mengusap bahuku.

“Jangan menangis.. Bukan salahmu“ katanya

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku ? Kenapa ?” tanyaku. Sial. Air mataku tidak juga mau berhenti mengalir.

“Untuk apa ? Kau sudah menentukan pilihan sebelum aku sempat menyampaikan isi hatiku padamu. Aku sadar bertepuk sebelah tangan “ jawabnya. Dia mengulurkan tisue padaku.

“Kau sangat bodoh….kau bodoh sekali! Kau tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Aku sudah mencintaimu terlebih dahulu. Aku memilih orang lain karena kau terlihat cuek padaku” aku kembali terisak.

Dia nampak sangat terkejut. “Kau ? Kau mencintaiku juga ? Tapi….tapi Kenapa kau mengabaikan semua tanda yang kusampaikan padamu ?”

“Tanda apa ? Aku tidak pernah merasa kau memberikan tanda apapun padaku. Kau sangat cuek…..kau selalu bersama-sama gadis-gadis lain. Kau sangat populer. Apalah aku ini dibanding dirimu”

“Mereka kan teman-teman kita. Aku tidak pernah punya hubungan apapun dengan mereka. Apa kau tidak merasa aku sering mencoba mengobrol denganmu lewat berbagai alasan ?”

“Bagaimana mungkin aku paham ? Kau tau aku selalu senang mengobrol dengan semua orang. Kalau kau mencintaiku seharusnya kau bicara padaku. Dan tidak membuatku patah hati”

“Akulah yang patah hati. Apa kau tak tahu hatiku hancur waktu kau memilih orang lain ?”

“Aku terpaksa melakukannya. Aku tidak mau setiap malam menangis memikirkanmu yang tidak pernah memikirkanku. Untuk apa ? Kau sendiri memilih berpacaran dengan orang lain”

Dia duduk bersandar. Lagi-lagi menghela nafas panjang. Matanya menerawang jauh. “Tak pernah terbayangkan olehku bahwa kau juga mencintaiku. Aku putus harapan. Aku benar-benar mengira cintaku tak berbalas” katanya lirih.

Dia menggeser kursinya ke sebelahku. Kami duduk bersebelahan. Kami terdiam, menatap keluar, ke arah hijaunya pepohonan yang rapat menutupi tebing.

Inilah mungkin kali kedua kami sama-sama patah hati. Tapi kenapa justru rasanya lebih sakit dari saat pertama. Perasaan kecewa luar biasa melanda hati kami berdua. Bodoh. Kami memang bodoh.

“Kau tidak akan pernah mengatakannya bukan kalau aku tidak menanyakan padamu ?” aku memecah kesunyian.

“Kau pikir pertemuan kita kembali beberapa waktu lalu itu kebetulan ? Aku setengah mati berusaha mencarimu, memperoleh nomer ponselmu itu tidak mudah. Kenapa kau menghilang ?”

“Apa kau tidak tau aku berusaha menghindarimu ? Melihatmu sama seperti membuka luka hatiku.” Jawabku jujur.

Semenjak menikah aku menghapus semua kontak lamaku dan pindah mengikuti tugas suami di kota kecil ini. Hanya beberapa sahabat sangat dekat yang tahu keberadaanku. Entah bagaimana beberapa bulan lalu dia memperoleh nomer ponselku dan mulai berkirim pesan.

Meskipun terkejut setengah mati, tapi sesungguhnya aku sangat senang memperoleh pesannya. Namun aku tetap berusaha menjaga sikap dan membalasnya dengan sopan. Kamipun mulai saling berbalas pesan. Sekedar bertanya kabar, menceritakan kegiatan sehari-hari hingga bercanda-canda. Beberapa kali dia bertemu denganku ketika sedang kebetulan bertugas ke kotaku. Kami tidak pernah bertemu berdua. Selalu bersama teman-temanku.

Sampai beberapa waktu lalu secara tak sengaja di bandara aku bertemu adiknya. Berawal dari ngobrol ngalor ngidul, akhirnya dari dialah kali pertama aku tahu isi hatinya.

“Mas Hari sebenarnya sangat mencintaimu mbak, sampai sekarang. Pernikahannya memang bahagia, Mas juga sangat cinta pada istri dan anaknya. Tapi meskipun begitu, aku tahu Mas masih terus menyimpan perasaan cintanya pada mbak. Aku bicara begini hanya supaya mbak tahu saja perasaan kakakku tersayang. Bukan karena sebab lain. Toh mbak juga sudah hidup bahagia bersama keluarga”.

Kabar itu membuatku sangat terguncang. Aku berhenti membalas pesannya. Telponnya pun tidak kuangkat. Duniaku kacau balau. Ada rasa kecewa dan bersalah luar biasa. Seandainya dia bicara…seandainya dia mengatakannya…. Hidupku tiba-tiba terasa hampa. Meskipun aku tetap menjalani hari-hariku seperti biasa. Tetap berusaha melayani semua kebutuhan keluarga dengan baik. Tapi hatiku seperti mendadak kosong.

Aku mulai sering melamun dan memikirkan dia. Ke manapun dan sedang apapun bayangan dirinya terus ada di mataku. Betulkah yang dikatakannya ? Aku memang merasa aneh saat dia mulai menjalin komunikasi kembali. Dia mulai bersikap lebih terbuka. Beda dengan dulu yang sangat tertutup padaku. Dia terasa memberikan perhatian yang lebih. Apapun yang kulakukan dia selalu nampak tahu, sekalipun aku tidak memberitahunya. Hingga akhirnya aku nekat menemuinya setelah dia memberitahu hari ini akan berkunjung ke kotaku.

“Apa sampai sekarang kau masih mencintaiku ?” tanyaku.

“Bagaimana menurutmu ?” Ah dia selalu suka berteka-teki begitu.

“Masih ?” Tebakku

“Sekarang kau pintar menerkaku. Coba dari dulu..” Dia tersenyum. Senyum itulah yang dulu memikatku.

“Bagaimana denganmu ?” Tanyanya tiba-tiba. Aku terkesiap. Tidak siap ditanya begitu. Aku selalu tidak siap jika berhadapan dengannya. Semua persiapan kata selalu buyar. Makanya di awal pertemuan aku langsung to the point.

“Kenapa diam ?” “Aku selalu mencintaimu. Dari dulu”

Kami kembali terdiam. Kini kami benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan selanjutnya. Green tea nut ku cuma kuaduk-aduk saja dengan sedotan sedari tadi. Sementara cangkir kopi miliknya masih tak tersentuh.

“Maukah kau berpacaran denganku ?” tanyanya tiba-tiba. Aku kaget setengah mati. Menatapnya setengah tak percaya. Dia tersenyum melihatku.

“Apa maksudmu ? Kita berdua sudah menikah. Itu selingkuh namanya”

“Aku tau pasti kau akan menjawab begitu”

“Dan aku tak sangka kau seberani itu”

“Kenapa tidak ?”

“Aku mengenalmu sebagai pria lurus. Yang nggak mungkin berpikiran macam-macam” Dia tergelak.

“Aku tidak mengajakmu menikah kan ?”

“Tapi mengajakku berpacaran ? ” Dia tersenyum mendengar jawabanku. Aih senyum itu lagi. Kalau aku kehilangan kewarasan ingin rasanya melompat dan mencium serta memeluknya. Baiklah…ternyata kita sama-sama gila.

” Dengarkan dulu. Sekarang kita sudah tahu bahwa kita saling mencintai. Aku…eh bukan…kita… sama-sama sudah menanti kepastian itu sekian lama. Berapa ? 10 ? Ah bukan…15 tahun. Bukankah…kita… juga berhak merasakan bagaimana cinta kita? Apalagi…kau adalah cinta pertamaku” dia berbicara dengan perlahan dan hati-hati. Seolah takut ada salah ucap.

“Cinta pertamaku juga” aku terkejut sendiri mendengar ucapanku. Sekali ini aku kelepasan bicara apa adanya. Aku menunduk. Aku tak ingin dia melihat sorot mataku.

“Jadi kenapa setelah waktu yang begitu panjang dan berliku kita tidak menikmati sekali saja cinta kita ?” Dia membungkukkan badan mendekatiku. Tanganku diraihnya dengan hati-hati. Jantungku berdetak kencang. Aliran darahku terasa sangat cepat. Oh Tuhan…jadi seperti ini rasanya orang jatuh cinta. Jangan mendekat lagi please…aku bisa pingsan.

“Ayolah Dev…sekali saja dalam hidup kita. Kita tidak tahu esok apa yang akan terjadi. Kita bisa mati kapan saja. Aku tidak mau hidupku berakhir tanpa pernah bersamamu.”

“Tapi itu sama dengan mengkhianati keluarga kita. Istrimu, suamiku…anak-anak…”

“Aku tidak minta banyak….hanya sehari. 24 jam saja untuk kita. Cukup. Setelah itu kita kembali pada keluarga masing-masing”

Aku menatapnya. Raut wajahnya sangat serius. Dia bersungguh-sungguh. Aku bimbang. Aku ingin sekali mengiyakan. Aku sudah sangat lama memimpikan bersamanya. Tapi kesempatan datang di saat yang sangat terlambat….sangat terlambat.

Melihat aku terdiam, dia bersandar kembali ke kursinya, menghela nafas panjang. Ada sorot kesedihan di matanya.

“Maafkan aku….kita sudah sangat terlambat. Waktu tidak bisa diputar kembali. Maaf….”

Aku berdiri dan beranjak pergi. Aku tidak mengucapkan selamat tinggal padanya. Mulutku tertutup rapat. Hanya air mata yang terus mengalir. Tidak…aku tidak boleh menangis. Ini kesalahanku sendiri. Inilah buah kebodohanku selama ini, tidak peka pada sinyal cintamu.

Aku terus berjalan keluar. Tidak mempedulikan tatapan mata para pelayan yang seperti bertanya-tanya. Mereka pasti mengira kami sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Peduli amat.

Di pelataran parkir kulihat masih tidak ada satupun mobil. Aku terkejut melihat papan tulisan Full Booked di pintu parkir. Hah ? Jadi dia sengaja memesan seluruh resto agar kami bisa bicara leluasa ?

Aku meraih ponselku dan menelponnya. Tidak diangkat. Sekali….dua kali….tiga kali…. Mendadak aku jadi sangat cemas. Aku berbalik dan segera berlari kembali ke dalam resto.

Aku lega luar biasa melihat dia masih duduk di kursinya.

“Kenapa tidak angkat ponselmu ?”

Dia menoleh. “Untuk apa ? Jika kau masih ingin bicara kau bisa menemuiku langsung”. Dia kembali memandang ke luar jendela.

Aku mendekatinya. Duduk kembali di kursiku tadi. Kuraih tangannya. Dia diam tak bereaksi.

“Baiklah…satu kali saja. Kita berpacaran. Tapi tidak melampaui batas.” kataku lirih. Ya Tuhan…apanya yang tidak melampaui batas…aku sudah selingkuh…ampuni aku…maafkan aku. Aku merutuki diriku sendiri dalam hati. Tapi sisi lain dariku sangat menginginkannya.

Dia menengok ke arahku. Dan spontan berdiri lalu memelukku erat-erat. Aku membalas pelukannya. Kami tersenyum bahagia. Saat yang sudah lama sekali kami nantikan akhirnya datang juga. Rasanya aku tak kan pernah mau melepaskan pelukanmu. Hatiku berbicara

cute-romantic-couples-in-love-kissing-huuging-wallpapers-9-5802cf02347b61ad0e14a708
Ilustrasi Source : http://www.chobirdokan.com/

Selepas berpelukan, kami membicarakan lebih lanjut rencana kami. Karena hanya 1x 24 jam seumur hidup, maka kami harus merencanakan secara detail dan hati-hati setiap waktu yg akan kami lalui. Ini mungkin saat yg sangat berharga bagi kami dan tak mungkin terulang.

“Jadi besok jam 7 kita bertemu di bandara. Flight pertama ke Surabaya. Dari situ kita tempuh tujuan lewat darat”. Dia mengatakan ulang rencananya. Aku mengangguk. Kami memilih menghabiskan waktu di kota kecil yg sejuk. Dia memang besok akan berdinas ke Surabaya. Sementara aku akan mengunjungi sahabat lamaku sebagai alasan. Kami berpelukan sekali lagi sebelum berpisah di resto itu. Sebelum masuk ke taksi yang kupesan, dia mengecup dahiku dan berpesan “Pakai kostum casual ya, seperti kamu dulu”. Aku mengangguk senang. Aku sudah kangen dengan t-shirt, jeans dan sepatu sport favoritku. Selama ini barang-barang itu cuma bisa kusimpan. Suami menginginkan aku selalu berpakaian rapi dan semi formil. Maklum, suamiku kebetulan punya posisi penting di kota ini. Banyak hal yang harus kutinggalkan semenjak menikah. Pekerjaan, hobby hingga gaya berpakaian. Meskipun nyesek tapi semua kujalani dengan tulus.

Esok harinya petualangan cinta kami berjalan lancar. Pada awalnya aku sangat takut. Hatiku dag dig dug selalu takut ketahuan. Aku menemui teman lamaku sebentar lalu bergegas ke biro travel. Tapi saat sudah bersamanya, kami menikmati setiap detik waktu dengan sangat bahagia. Rasa takut menguap entah ke mana. Udara dingin dengan cuaca cerah seperti menyuruh kami untuk terus berpelukan. Kami bahkan menyewa sepeda motor untuk berkeliling. “Kita pura-pura masih jd mahasiswa. Sejak kuliah dulu aku ingin sekali berduaan begini”katanya. Wajahnya begitu ceria. Aku memeluk dan mengecup pipinya. Kami betul-betul seperti sepasang remaja kembali.

web-med-young-happy-couple-ready-to-go-34438031-5802d10dfd22bd360c62fb72
Ilustrasi Source : https://theridingcenter.com

Duduk berdua di warung kecil, minum secangkir wedang jahe hangat berdua bergantian. Sengaja kami hanya memesan secangkir. Aku ingin minum dari cangkir yg sama dengannya. Tangannya merangkul bahuku.

“Pemilik warung pasti menyangka kita ini pasangan pelit, hanya mau beli secangkir” kataku. “Atau mengira kita sangat miskin” balasnya.

Aku tertawa lepas. Suamiku mana mau duduk di warung kecil begini. Aku menghela nafas. Tidak, aku tidak boleh membandingkan mereka. Itu tidak adil.

Puas berpetualang, kami kembali ke villa yang kami sewa. Tempatnya agak terpencil. Berundak-undak ke bawah. Aku dan dia menempati tempat teratas karena aku tidak suka harus turun segala. Kami menyewa villa terpisah. Aku tidak berani ambil resiko tidur di bawah satu atap dengannya. Cinta kami begitu menggebu. Kami takut lepas kontrol.

Kami mengobrol di teras villaku sambil minum wedang ronde dan beberapa camilan. Tiba-tiba wajahnya menegang melihat ke satu villa di bawah.

“Ada apa ?” tanyaku. Aku melihat ke arah yang sama. Kulihat di villa bawah ada seorang perempuan cantik berkacamata sunglasses sedang berpelukan sangat mesra dengan seorang lelaki berperawakan agak subur.

“Kenapa ? Siapa mereka? Kau kenal ?” tanyaku beruntun.

“Rina, istriku. Deni, sahabatku”. Dia terduduk lemas. Aku terkejut sekali. Bagaimana mungkin bisa kebetulan sekali kami ada di satu lokasi ? Sejurus kemudian dia meraih ponsel. Menelpon anaknya.

“Mama pergi ke luar kota sejak kemarin. Tak lama setelah papa berangkat. Katanya ada proyek di luar kota. ”

Aku terkejut mendengar dia mengulang kata-kata anaknya. Sejurus kemudian dia menelpon kembali. “Oh Deni ke Bandung ya ? Sudah lama ? Sejak kemarin. I see. Terimakasih ya May” rupanya dia menelpon istri Deni.

Dari berbagai telpon yang dilakukan, kami akhirnya tahu bahwa istrinya sering pergi keluar kota saat dia dinas luarkota.

“Apa yang harus kulakukan ? ” dia nampak bingung, marah dan sedih. Aku memeluknya. “Tapi kau tidak bisa melabraknya sementara kau di sini bersamaku. ”

“Seharusnya aku tau. Deni terlalu sering main ke rumah. Beberapa kali pulang dinas, aku melihat Deni di rumah. Tapi kupikir dia sahabat yang baik. Selagi aku tidak ada, membantu memperhatikan keluargaku” wajahnya menegang. Merah menahan marah. Tangannya mengepal. Aku takut. Sedari dulu aku selalu takut jika melihatnya marah. Diam, tak banyak bicara, tapi sorot matanya sangat tajam. Kalau itu pisau, dia bisa membunuhmu seketika.

“Tapi kamu tidak bisa melakukan apapun saat ini. Kamu bisa menyeret istrimu pulang. Tapi diapun akan bertanya-tanya kenapa kamu di sini” saranku.

“Kurang ajar. Aku setengah mati mencari uang untuk menghidupi keluargaku, ternyata di belakangku dia mengkhianatiku. Aku setengah mati menahan diri bisa bersamamu, ternyata selama ini dia sudah bersama lelaki lain”. Amarahnya belum hilang. Otot rahangnya masih menegang. Tangannya masih terkepal.

Suasana yang tadinya begitu menyenangkan hilang sudah. Aku hanya bisa mengusap bahunya, berusaha menenangkan hatinya. “Lebih baik aku pindah ke hotel saja malam ini. Dan kamu bisa membawa pergi istrimu. Bagaimana ?” usulku.

“Maafkan aku, sudah merusak suasana ini. Kita baru…sebelas jam bersama. Tigabelas jam sisanya, bisakah dilakukan lain waktu ?” ada nada menyesal di suaranya.

“Tidak apa. Aku mengerti. Apapun kamu harus menyelamatkan pernikahanmu”. Kamipun berpisah sore itu. Aku tidak pindah ke hotel seperti yang kukatakan padanya, tapi kembali ke Surabaya. “Hati-hati di jalan, besok kuhubungi lagi”, pesannya yang masuk ke ponselku. Malam itu hingga perjalanan ke bandara untuk pulang belum ada kabar apapun darinya. Demikian juga esok dan esoknya. Aku tidak berusaha menghubunginya. Biarlah. Biar dia bisa dengan tenang menyelesaikan masalahnya.

Seminggu setelah itu ada pesan masuk darinya. “Bisakah aku bicara langsung di telpon denganmu ?” bunyi pesannya. Aku membalas singkat “silakan”

“Maaf baru bisa menghubungimu sekarang”

“Tidak apa, aku mengerti. Bagaimana ?”

“Kubawa Rina pulang malam itu setelah menghadiahi Deni dengan beberapa pukulan.”

“Lalu ?”

“Rina mengakui semuanya. Dia sudah lama selingkuh dengan Deni. “ ada nada sedih di suaranya. Andai dia ada di depanku, mungkin aku bisa memberinya sebuah pelukan.

“Tapi….Rina memilih Deni. Dia meninggalkan aku dan anak-anak.” Isak tangis dirinya terdengar. Aku tercekat. Lidahku kelu. Mataku mulai ikut berkaca-kaca.

“Jadi kalian bercerai ? “ tanyaku hati-hati. “Aku belum tahu. Baru tadi sore sepulang kantor aku tahu dia pergi. Semua bajunya tidak ada lagi. Hanya ada amplop surat permintaan maafnya. Anak-anakpun masih belum kuberitahu. Kau tau agama kami melarang perceraian” katanya terbata-bata.

Aku menghela nafas panjang. Hatiku ikut terasa hancur mendengar nada sedih yang mendalam di suaranya. Bagaimana bisa. Lelaki yang begitu sempurna di mataku, ditinggalkan begitu saja. Bagaimana bisa….aku menginginkanmu setengah mati sementara wanita yang seharusnya merasa beruntung malah mencampakkanmu ? Air mataku tak lagi bisa terbendung.

“Aku memerlukanmu. Aku perlu saranmu. Bisakah kau datang ke kotaku ? Aku masih punya jatah 13 jam bukan ?” dia memohon padaku. Kami mengakhiri pembicaraan. Aku mengiyakan permintaannya. Kali ini aku datang lebih sebagai sahabat. Sahabat tempat bersandar di saat seseorang sedang terpuruk.

Ada rasa sedih akan segala penderitaannya. Tapi ada juga rasa bahagia hendak bertemu kembali dengannya. Aku menata baju-baju yang akan kubawa esok. Suamiku yang sedang berdinas di Jakarta kukirimi pesan. “Pa, aku mau ketemu Rara di Bandung. Boleh ya ?” bunyi pesanku. Rara adik bungsuku. Semula suamiku melarang, tapi dengan berbagai alasan akhirnya dia mengijinkan.

Esoknya aku memilih naik kereta api ke Bandung. Semula aku berkata pada suami hendak naik pesawat. Namun cuaca buruk membuatku takut bepergian dengan pesawat. Turun di stasiun Bandung , udara sejuk menyambutku. Ah kota ini…kota masa laluku,,,,kota penuh kenangan. Kota tempatku dilahirkan, sekolah, kuliah, bertumbuh. Aku dan dia. Aku tersenyum sendiri mengingat semua kenangan masa lalu.

Senyumku menghilang ketika aku berjalan ke area parkir. Mataku terbelalak. Badanku gemetar hebat. Apa yang kulihat di depanku sungguh sulit kupercaya. Suamiku ! Dia sedang turun dari sebuah mobil. Bersama seorang perempuan muda dengan dandanan menor. Berpelukan sangat mesra. Aku menenangkan diri sebelum berjalan ke arahnya. Dia terlihat sangat pucat melihatku mendatanginya.

Klik ! Klik ! Aku memotret mereka dengan kamera hapeku.

“Kita urus perceraian setelah kau pulang. Anak-anak bersamaku. Mas Dewa akan mengurus semuanya untukku” aku menyebut nama kakak sulungku, seorang lawyer top di negeriku. Suamiku melongo tak bisa berkata apapun. Aku melangkah pergi.

Tapi sejurus kemudian aku berbalik ke arahnya. “Maaf ada yang kulupakan “

Plak ! Tamparan keras kulayangkan ke suamiku. “Ini untuk semua kesia-siaan hidup yang kujalani bersamamu”

Plak ! Tamparan kedua. “Ini untuk pengkhianatanmu” kataku dengan nada tenang.

Plak ! Tamparan kali ini ke perempuan di sebelahnya. “Dan ini adalah salam perkenalanku”

Aku berbalik dan berjalan dengan tenang. Meninggalkan mantan lelakiku dan perempuan selingkuhannya. Aku terus berjalan ke mobil Rara yang sudah ada di halaman parkir. Rara hanya bengong melihatku, suami dan perempuan menor itu. Aku tidak mempedulikan pandangan orang-orang di stasiun. Entah kenapa kali ini hatiku justru terasa plong. Longgar. Seolah semua beban yang menghimpitku terlepas.

Mobil kami berjalan pelan meninggalkan halaman stasiun. Rara masih terus mengumpat-ngumpat nama suamiku sepanjang perjalanan, mengemudi sambil sibuk bicara di ponsel dengan kakak sulungku. Meskipun melalui speaker, tapi aku tidak mendengarkan mereka. Aku membuka kaca jendela mobil. Kuulurkan tanganku ke luar, merasakan kembali udara sejuk kotaku….merasakan aroma kebebasanku. Perjalanan meraih cinta lamaku akan kumulai. Kehidupan keduaku.

sovmestnytransfer-5802c8e04f97739f0dd47597
Freedom Ilustrasi Source : http://vietnamtransfer.ru/

Cerpen di atas sudah pernah saya posting di akun Kompasiana saya dengan link : Cerpen Selingkuh by Mama Totik

Iklan

3 Comments Add yours

  1. bersapedahan berkata:

    sudah lama saya ga baca cerpen .. tahunan kali, cerpen ini enak dibacanya

    Disukai oleh 1 orang

    1. coffeeloverstory berkata:

      Hehe…cerpen ini juga tulisan favorit saya dan teman2 saya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s