Kuliner Legendaris USA

Halo pembaca…

Sudah lama nggak menulis tentang wiskul atau wisata kuliner. Agak males karena rasanya semua orang demen bikin artikel  bertopik wiskul. Apalagi platform blog agak repot untuk sekedar bikin review, kalah dengan platform google map yang selain terkoneksi dng lokasi, reviewer lain dan owner, juga menyediakan berbagai kemudahan posting baik tulisan maupun foto plus ….waini…ada point dan bonus.

Tp berhubung kangen nge-blog, saya bulatkan juga tekat buat nulis. Apalagi wiskul yang saya mau angkat kali ini cukup berharga, masuk kategori “the legend” tak lekang oleh jaman. Yuk langsung….olah tkp.

Akhir-akhir ini saya memang sering banget bolak balik USA baik karena ada keperluan atau sekedar cuci mata. Jangan salah sangka. USA ini maksudnya Ungaran Salatiga Ambarawa. Qiqiqi. Istilah itu saya dapat dari ndoro kakung ( red.suami).

Saya mah maennya deket-deket wae, takut nyasar. Nggak seperti si meneer Kim Chi Ung, yang kerjanya emang muter-muterin bola duniyaaah kayak Batman. Ibaratnya pagi fitness di paragon Semarang, siang jajan duren palopo di Makassar, sore motret orang renang di Menado dan diakhiri ngintip artis k-pop wamil di DMZ. Qiqiqi

Negara Bagian U

Oke langsung saja saya masuk ke zona U dulu nih, bukan Utah tapi  Ungaran. Kota kecil tak jauh dari Semarang ini punya tempat makan yang mungkin sudah berusia lebih dari 40 tahun dan nyaris kalah oleh hadirnya berbagai resto dan cafe.

RM Djawas, Ungaran

Namanya Djawas. Restoran ini bentuknya sederhana dan kecil, menempati satu unit ruko, lokasinya di tepi jalan raya Ungaran. Jika anda datang dari arah Semarang, maka setelah memasuki jalan utamanya, jl. Gatot Subroto, di sisi kanan jalan akan anda temui deretan ruko. Di halamannya terpampang papan nama Djawas. Di bawah ini foto papan nama Djawas dengan pemandangan gunung Ungaran yang pas kebetulan terlihat jelas.

20180109_173223 - Copy
Papan Nama Djawas dilihat dari arah Semarang Sumber : Dokpri
20180109_173255 - Copy
Menempati Ruko Sumber : Dokpri

Djawas berasal dari nama pemiliknya, alm Haji Djawas, warga Indonesia keturunan Arab. Pak Djawas ini sudah membuka usahanya sejak ndoro kakung masih kecil. Rumah makannya dulu adalah yang terbesar di Ungaran. Djawas beberapa kali pindah tempat. Pernah di jl.Diponegoro dan sekarang akhirnya di Gatsu. Ndoro kakung cerita, jaman dia kecil, harga sepiring besar gulai kambing adalah Rp.15,- ( lima belas rupiah ) qiqiqi masa Orba itu

Djawas surut selain karena banyak pesaing kuliner baru, juga karena semua anaknya laki-laki, dan tidak bisa memasak. Yang sekarang menjalankan adalah salah satu putranya, mungkin satu-satunya yang lumayan bisa masak.

20180109_173242 - Copy
Sebelahnya ada kedai kebab Nafeeza Sumber : Dokpri

Sebelah Djawas ada kedai kebab, masih milik keluarga mereka.

20180109_173342
Ada foto pak Bondan alm di dindingnya Sumber : Dokpri

Jika anda ke sana, maka di dinding akan ada banyak foto berbingkai. Salah satunya foto pak Bondan “mak nyus” almarhum yang juga penggemar Djawas, seperti foto di atas. Di foto atas itu nampak ada bapak tua keturunan Arab, agak botak, berdiri sebelah pak Bondan. Ya itulah putra pak Djawas yang sekarang menjalankan usaha ini. Sudah sepuh, dan jalan terhuyung-huyung, tapi tetap melayani pengunjung dengan setia.

20180109_173414 - Copy
Potongan artikel koran tentang Djawas Sumber : Dokpri

 

20180109_172725 - Copy
Daftar Menu Sumber : Dokpri
20180109_172715 - Copy
Daftar Menu Sumber : Dokpri

Apa yang populer di sana ? Ada 2 menu andalan mereka yakni Nasi Kebuli dan Gule Kambing. Untuk 2 menu ini saya harus beri acungan jempol. Rasanya jauuuuh lebih lezat daripada yang paling ngetop di Semarang. Saya pernah menulis tentang nasi kebuli Khoja Semarang, rasanya kalah banget dengan Nasi Kebuli Djawas ini. Nasi kebuli Djawas memakai lemak kambing dan minyak samin buatan sendiri. Rasanya lezat. Di Djawas kalian juga bisa membeli minyak samin bikinan mereka.

20180109_173758
Nasi Kebuli Sumber : Dokpri

20180109_173742

Bagaimana Gulenya ? Gule Kambing gereja blenduk 29 Semarang yang kondang banget itu rasanya kebanting deh dengan gule Djawas. Gule Djawas ini juga unik karena kuahnya diberi taburan kelapa parut sangrai.

 

 

Gule Djawas juga dilengkapi sambal dan acar. Sambalnya adalah sambal terasi goreng dengan lombok merah, bukan lombok “setan”. Sehingga rasanya tidak pedas sekali tapi enak.

Untuk minumannya, ada susu telur yang lezat dan kopi Arab.

Bagaimana dengan menu lain ? Kan ada juga nasi goreng baik ayam maupun kambing ? Nggak recomended deh. Keahlian mereka memang di nasi kebuli dan gule/ tongseng. Untuk kebabnya saya belum sempat nyoba, Tapi banyak yang suka.

Selain Djawas, sebenarnya ada juga kuliner lain seperti Mang Engking, Daun Salam dll. Hanya saja saya rasa mereka belum punya keistimewaan kuliner, sekedar Instagramable isitilahnya. Yakni tempat kuliner dengan spot2 bagus…tapi rasa biasa wae.

Negara Bagian S

Nah sekarang saya mau tulis tentang kuliner legendaris di negara bagian S atau Salatiga.

Sedikit tentang Salatiga, ia adalah kota kecil terletak tak jauh dari Semarang, hanya sejam perjalanan saja.  Jika anda menempuh perjalanan dari Semarang, maka sepanjang jalan menuju Salatiga anda akan disuguhi pemandangan menawan berupa deretan hijaunya pegunungan. Dan jika menginap di Salatiga, anda akan melihat birunya langit Salatiga yang jauh beda dengan Semarang. Biru cerah, karena tingkat polusi kota yang rendah. Kotanya sejuk, matahari terasa hangat di kulit, tidak membakar.

20171117_075813
Pemandangan indah seperti ini yang selalu bikin kangen Sumber : Dokpri
20171111_115555
Birunya langit Salatiga Sumber : Dokpri

Bagaimana dengan kotanya ? Kota Salatiga sendiri sebenarnya kecil dan tidak terlalu indah. Tapi cukup sukses menjaga perkembangan wilayahnya. Baru baru saja pemda Salatiga berbenah diri dengan memperbaiki trotoar dan mempercantik dengan berbagai ornamen lampu jalan yang meriaaah. Hahaa…saya sebenarnya menilai ornamen trotoar terlalu rame, agak berlebihan. Tapi biarlah, toh selera orang beda beda.

20171117_085222
Inilah pusat perekonomian Salatiga. Gedung bercat pink itu adalah pasar raya Salatiga Sumber :Dokpri
20171117_084327
Warna pink menara Pasar dan birunya langit membuat pasar seperti istana dongeng saja Sumber : Dokpri

Meskipun kecil dan relatif sepi, saya sangat menyukai kota ini. Di sini saya merasa betah jalan-jalan (jalan kaki), mencobai makanan tradisional, menjajal lesehannya bahkan blusukan ke pasar dan ngobrol dengan bakul-bakul. Orang-orang Salatiga masih kental budaya Jawanya, sopan, ramah. Nggak heran saya betah banget. Nah sekarang apa saja kuliner legendaris Salatiga ?

20171117_085445
Langitnya biru dan awan putih jelas nampak karena udara relatif tidak tercemar Sumber : Dokpri
20171215_180816
Sampai menjelang malam birunya langit masih nampak Sumber : Dokpri

 

20171215_180228
Payung payung merah di depan Grand Wahid Hotel Sumber : Dokpri
20180218_131559
Ini kalau difoto saat mendung Sumber : Dokpri
20180218_131543
Bundaran menuju jl.Sudirman, nampang patung Jend Sudirman di kejauhan Sumber : Dokpri
20180218_131624
Jl.Jend Sudirman Salatiga Sumber : Dokpri

Nah beberapa foto di atas semoga bisa memperjelas sedikit gambaran suasana kota Salatiga. Sayang ya hanya pakai kamera hp dan pixelnya kurang besar, jadi warnanya jg kurang clear. Sekarang langsung ke tempat-tempat wiskul di sana

Bakso Tamansari, Salatiga

Nah ini dia bakso yang paling terkenal, bukan saja di Salatiga, tapi tersohor sampe Yogya dan Semarang. Intermezzo saja…saya inget banget, dulu teman saya ada yang rela setiap Sabtu menempuh jarak Yogya- Salatiga buat makan bakso ini. Nyambi pacaran soalnya hahahaha. Kebayang kan, naik mobil berdua pacar lewat jalanan Kopeng yang indah, adem, sampai Salatiga makan bakso hangat…hehehe

Lokasinya ada di jalan Diponegoro no.105 Salatiga. Nggak jauh dari pusat kota.

20171209_122256
Tempatnya luas dan bersih Sumber : Dokpri
20171209_122249
Keliatan kan panci kuah baksonya segede gaban Sumber : Dokpri
20171209_122240
Di sisi kanan kasir ada sudut penjualan oleh-oleh khas Salatiga Sumber : Dokpri

 

Bakso Tamansari ini memang rasanya beda. Lebih enak karena kualitas bahannya juga oke punya. Dan beda juga dengan semua bakso2 yang menuliskan nama sebagai bakso Salatiga. Di Semarang kan ada tuh beberapa memakai nama Bakso Babat Salatiga. Rasanya bedaaaa jauh. Yang paling enak tentu bakso komplit karena ada pangsitnya. Untuk harga memang relatif mahal dibanding bakso biasa.

20171209_122206
Daftar Menu Bakso Taman Sari Sumber : Dokpri

20171209_122223

Untuk minuman, ada banyak pilihan, mau yang wedang atau minuman dingin. Beberapa kali ke sana saya selalu memesan wedang roti ketan hitam. Rasanya nggak terlalu enak, tapi nyaman di perut dan menghangatkan.

 

Di Taman Sari ini ada salah satu sudut ruangan tempat dipajang dan dijual berbagai oleh-oleh , berupa panganan produk lokal. Foto di bawah ini contoh beberapa produknya. Yg kanan itu penulis ya, bukan oleh-oleh juga hehehe

 

Ikan Kuthuk

Ikan kuthuk adalah ikan gabus yang hidup di rawa. Salatiga dekat dengan Rawa Pening, danau air tawar yang cukup luas. Di danau itu dulu banyak sekali terdapat ikan kuthuk. Dagingnya yang tebal, sedikit duri dan rasa gurih, membuat kuthuk digemari. Tapi akhir-akhir jumlah populasinya makin sedikit. Mengapa ?

  1. Karena penangkapan besar-besaran. Untuk apa ? Mengkonsumsi Ikan kuthuk dipercaya bisa meningkatkan kadar albumin darah dengan cepat, sehingga mampu menyehatkan penderita demam berdarah akut.
  2. Telur ikan kuthuk terkenal enak, sehingga juga banyak diolah menjadi semacam galantine siap goreng.

Karena kedua hal itulah maka ikan kuthuk makin jarang dijumpai. Untuk mendapatkan ikan kuthuk mentah atau siap goreng, kita harus blusukan ke dalam pasar Salatiga. Di jalanan belakang Pasar Raya 1 Salatiga itu beberapa penjual ikan kuthuk dan telur ikan kuthuk. Harga ikan kuthuk siap goreng ( sudah berbumbu dan goreng setengah matang ) Rp.60.000,-/kilo. Sedang telur ikan kuthuk Rp.17.500,-/ bulatan ( diameter 15 cm dengan tebal 5 cm )

Jika kehabisan, maka di sore hari sekitar jam 5, di depan Pasar Raya 1 Salatiga, ada penjual masakan matang. Di antara yang dijual terdapat ikan kuthuk. Dimasak dengan bumbu sambal goreng. Rasanya ? Hmmmm…lezaaat. Tapi dia nggak bikin banyak lho. Hanya sekitar 10 potong setiap kali masak. Perpotong sekitar Rp.10.000,- Anda tinggal memanaskan kembali di rumah.

 

Tumpang Koyor

Kuliner legendaris lainnya adalah Tumpang Koyor. Tumpang berasal dari kata Sambal Tumpang, yakni masakan yang dibuat dari tempe dan tempe 1/2 busuk yang dihaluskan bersama bumbu lalu direbus dengan santan. Sedang Koyor adalah kikil atau bagian lapis kulit sapi. Jadi tumpang koyor adalah sambal tumpang dengan potongan2 kikil di dalamnya. Bisa dimakan dengan nasi saja, bisa juga dituangkan ke atas sayuran seperti pecel, bahkan ada juga yang dituangkan di atas bubur nasi.

Di mana dijual di Salatiga ini ? Ada 3 tempat yang biasa saya datangi untuk membeli Tumpang koyor.

1. Pandan Wangi

Lokasinya sederet dengan Grand Wahid Hotel, hanya sekitar 100 m. Tepatnya berseberangan dengan deretan ruko jl.Sudirman. Warungnya bercat ijo, kecil dan buruk rupa. Berjualan sejak jam 7 pagi sampai sore jam 4. Penjualnya sudah sepuh tapi ramah. Cuma ndoro kakung suka sebel karena telat sebentar saja nggak mau melayani. Kenapa ? Jam 4 semua masakan sudah dipanasi dan tidak boleh lagi diaduk2 untuk diambil.

“Lha emangnya dia itu jual masakan atau tukang ngangetin masakan sih ?” omel ndoro kakung kalau gagal. Tapi tetep saja kami sering ke situ dan bersabar. Mengapa ? Karena rasa masakannya khas masakan jaman dulu, bumbu lengkap, alami memakai minyak kelapa dan rasanya seperti rasa masakan ibu kami dulu. Anak saya, Totik, paling suka dengan opor ayam Pandan Wangi ini. “Enak…kayak masakan eyang…nggak kayak masakan Ibu” hahaha..asem

 

2. Lesehan Ruko Jl.Jend Sudirman

Di pertokoan jl.Jend Sudirman, sisi seberang Grand Wahid, pada sore hari saat sebagian besar toko tutup, emperannya beralih fungsi menjadi area kuliner lesehan Salatiga. Berlangsung dari jam 7 malam sampai 2 pagi dini hari. Berderet-deret di situ mulai dari penjual wedang ronde, nasi goreng, masakan padang, mie jowo sampai Tumpang Koyor.

Salah satu penjual Tumpang koyor menempati lapak depan Toko Bucheri. Soal rasa nggak yang enak banget, tapi jenis masakan lengkap. Babat bacemnya juga empuk. Ada 2 ibu ibu penjual di situ, jualannya mirip.

20171208_185759
Penjual Tumpang Koyor di lesehan emper toko Jl,Sudirman Sumber : Dokpri
20171208_185808
Lesehan kuliner Sumber : Dokpri
20171208_185839
Aneka pilhan masakan Sumber : Dokpri
20171208_190015
Babat bacemnya enak lho…empuk Sumber : Dokpri
20171208_185910
Untuk minumannya, ada bakul wedang ronde di depan bakul Tumpang Koyor Sumber : Dokpri

20180209_200913

3. Bu Yusra Jalan Lingkar luar Salatiga

Lokasinya ada di tepi jalan lingkar luar Salatiga, bersebelahan dengan RM Joglo Tepi Sawah. Favorit saya adalah nasi tumpang koyor dan wedang uwuh. Di sini nasi tumpangnya disajikan dengan sayuran dan parutan kelapa berbumbu. Bentuk rumah makannya rumah joglo serba kayu. Seperti rumah-rumah di desa. Nilai plusnya lagi….penjualnya remaja2 putri di mana dua di antara mereka cantiiiiik banget. Sayang, mereka menolak difoto. Emang biasanya begitu sih…yg cantik asli malah nggak suka difoto hahahah

 

Sate Blothongan

Blothongan adalah nama daerah saat anda memasuki kawasan Salatiga dari arah Semarang, di sisi kanan jalan. Sate kambing Blothongan cukup terkenal di Salatiga. Saya sendiri tidak melihat apa istimewanya. Menurut saya ya sate kambing begitu itu. Bedanya barangkali karena disajikan di atas hotplate. Selain sate saya selalu pesan Tongseng. Rasa tongseng di sini memang enak.

 

Ronde Jago

Ronde Jago ini memang unik. Tempatnya ada di belakang ruko Sudirman, tepatnya di gang belakang Sate Suruh. Hanya menempati satu ruko kecil. Sehingga pengunjung harus duduk di kursi-kursi yang ditata di gang. Jadi sebetulnya nggak terlalu nyaman juga. Rasa wedang dan hidangannya juga tidak terlalu enak. Wedang kacangnya lebih enak wedang kacang kebon Magelang. Makanan lain seperti Mie Kopyok juga nggak enak.

Tapi dengan kedua kondisi tadi, Ronde Jago ini banyaaaak sekali lho peminatnya. Oh ya, belum saya tulis tadi. Bahwa Salatiga sebagai kota yang adem sering dijadikan jujukan seminar, workshop, training berbagai instansi dan perusahaan kota-kota sekitarnya. Nah tamu-tamu luar kota ini sering berombongan datang ke sini.

Kadang saya terpaksa batal jajan di situ karena harus menunggu antrean hingga sejam. Nggak bangetlah buat saya. Dan lebih lucunya lagi, tahun ini Ronde Jago buka outlet bagus di mal RS Telogorejo Semarang. Sampai sekarang saya sering mikir, apa ya yang menyebabkan Ronde Jago ini laris manis selama bertahun-tahun hingga tergolong legendaris.

 

Getuk Kethek

Kethek adalah bahasa Jawa dari monyet. Produk getuk ini memakai nama Kethek karena di sang pemilik memiliki hewan piaraan berupa monyet atau kethek dan ditempatkan di depan rumah. Dulu jika ada yang bertanya di mana rumah penjual getuk, selalu dijawab yang ada kethek-nya. Dari situ kemudian gethuk ini terkenal menjadi Getuk Kethek. Padahal nama aslinya adalah Getuk “Satu Rasa”

Lokasinya ada di Jl. Argotunggal No.9, Ledok, Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah 50732. Dekat sekali dengan hotel dan resort Laras Asri. Jika anda menginap di situ, tinggal keluar dari hotel, jalan ke arah kiri 100 m, ketemu gang kecil, masuk sekitar 20 m. Atau cari saja panduan lewat google map. Buka dari jam 09.00 sampai jam 12.00

Saya pernah seneng datang ke sana pas sepi dan di bawah jam 12, eh ternyata sudah habis diborong. Pantes sepi.

Rasanya enaaak banget, lembut dan gurih apalagi jika dibeli saat masih hangat. Dibuat dari singkong rebus yang ditumbuk halus dan dicetak berbentuk kotak. Tapi hati-hati, getuk ini tidak awet. Karena tanpa pengawet, mudah sekali basi. Hanya bisa bertahan 2-3 jam saja.

Pernah diadakan uji coba dengan memasak ulang, dipanggang di oven oleh mahasiswa KKN Undip. Lebih awet memang, tapi rasanya jadi berubah, kurang enak.

20171209_115936
Kethek ( Monyet ) sang maskot Sumber : dokpri
12976235_224187344622794_1347636652_n
Penampakan Gettuk Kethek Sumber : ww.socimage.com

Singkong D9

Nah kalau nggak kebagian getuk kethek, ke mana dong ? Jangan kuatir. Satu gang dengan getuk Kethek, kira-kira lebih masuk 20 m, ada “kampung singkong”. Di situ ada Singkong D9 yang terkenal itu. D9 adalah nomer rumah pemilik usaha. Singkong D9 adalah singkong goreng yang terkenal empuk dan gurih.

D9 kemudian mengembangkan berbagai jenis singkongnya, menjadi berbagai rasa. Untuk yang di luar kota, ada Singkong D9 beku yang bisa anda simpan di kulkas dan goreng kapanpun mau. Tapi pembelian untuk jenis beku ini dibatasi 4 kotak per orang. Dan sering habis. Sedang untuk jenis yang sudah digoreng tersedia setiap saat dan tanpa pembatasan. D9 ini juga memiliki cafe dan toko oleh-oleh. Sehingga pembeli singkong sambil menunggu singkong disiapkan, bisa duduk-duduk di cafe sambil minum atau makan cemilan.

 

Negara Bagian A

Nah masuklah ke negara bagian A…not Alabama or Arizona…but Ambarawa ! Hehehe. Sebenarnya di Ambarawa banyak kuliner menarik seperti Kopi Eva, Coffe Banaran, Sate Sapi Kempleng, atau kuliner di Bandungan. Tapi lokasi mereka sebenarnya tidak bisa dimasukkan wilayah kota Ambarawa.

Roti Pauline

Jadi saya mau nulis satu saja yang bener2 legendaris, yakni Roti Pauline. Toko ini sudah ada sejak saya masih kecil. Kalau dari Semarang, letaknya di kiri jalan, menempati deretan ruko setelah pasar.

 

Bentuk tokonya kuno. Roti di sini buatan sendiri dengan cita rasa dipertahankan seperti dulu.  Yang terkenal adalah roti kelapa. Cuma ada di sini. Sebetulnya ini seperti potongan bolu biasa tapi dicampuri kelapa.

images (11)
Roti Kelapa Sumber : Dokpri

Kalau datang jam 10, biasanya rotinya masih hangat baru dari oven. Hmmm…enak banget dimakan sepanjang perjalanan sambil dengerin lagunya Axwell Ingrosso “More Than You Know” 

Nyemil roti jadul, dengerin lagu berirama riang, sambil cuci mata pemandangan indah di jalan…hmmm…jadi inget kamu deh….qiqiqi…readers maksudnya

 

Oke segitu saja tulisan mengenai Kuliner Legendaris USA. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya ya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s