Laki-laki Berlian

diamond

“Tahukah anda semua dari mana sepotong berlian itu berasal ? Anda pasti tidak mengira bahwa batu sangat berharga itu semula hanya sepotong batu bara biasa. Ya, batu buruk rupa. Tapi oleh kekuatan alam yang maha dasyhat, dia ditempa oleh tekanan sangat kuat lapisan kerak bumi, sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi berlian yang luar biasa”

Tidak pak…aku bukan batu. Aku manusia, punya hati, punya perasaan, punya rasa lelah. Aku bisa patah dan hancur oleh tekanan yang sangat kuat. Alih-alih menjadi pribadi yang istimewa seperti berlian, bisa-bisa yang tersisa hanya tulang dan sedikit nafas. Aku bersungut dalam hati

“Jadi saudara-saudara sekalian, anggap tekanan kerak bumi itu masalah. Tekanan itu adalah proses alami membentuk anda menjadi pribadi unggul, pribadi istimewa. Jadi teruslah bersikap positif dalam menghadapi masalah”

Bullshit….satu hal yang anda lupakan pak, anda tidak bisa membuat analogi manusia dari sepotong batu. Manusia adalah mahluk hidup yang membawa karakter berbeda-beda. Manusia terlahir dengan milyaran tipe gen, dan tentu itu menghasilkan ketahanan dan sikap yang berbeda dalam menghadapi masalah. Pelawak di depan itu sama sekali tidak tahu apa yang dia katakan, batinku.

“Pandangan negatif tidak akan membuat anda melangkah ke mana-mana, karena anda hanya akan sibuk berkutat pada ketakutan, rasa khawatir, iri dengki, ragu, lelah. Semua harus anda singkirkan jauh-jauh”

Balance….anda melupakan hukum kesetimbangan dalam alam. Ada input ada output, ada negatif ada positif. Anda terus berbicara bahwa negatif feeling harus dibuang jauh. Tapi tahukah anda, terus menerus berpikir positif adalah kebodohan yang menjerumuskan. Kewaspadaan anda akan hilang….dan wuuus….anda akan jatuh dalam berbagai penipuan dan muslihat. Dasar badut, omelku.

“Jadi demikian penyampaian saya saudara-saudara. Sayang sesi saya sudah selesai. Jika ingin mengikuti seminar saya selanjutnya, silakan daftar di meja depan. Oh ya, jangan lupa membeli buku saya 10 Cara Jitu Menjadi Orang Sukses, best seller saudara-saudara. Sudah cetak ulang hingga 4 kali. Terjual hingga ke 25 negara di seluruh dunia, jumlahnya sangat terbatas. Jangan sampai kehabisan ! Sekian dan sampai jumpa. Jangan lupa…apa yel-yel kita ?”

“Be diamond be positif ! Sukses..sukses…sukses !” yel-yel semangat menggema serempak dari hadirin.

Sudah ? Begitu saja ? Terserahlah, makin cepat selesai makin baik. Artinya aku bisa segera menghabiskan waktuku untuk keperluan pribadi. Aku merasa senang.

Bapak pembicara di depan menyingsingkan lengan jasnya sedikit, melihat ke arah jam tangannya, yang rantainya nampak berkilau warna keemasan.

“Maaf saya tidak bisa menemani saudara-saudara makan siang, silakan menikmati hidangan yang disajikan, saya harus segera ke bandara, untuk flight ke Qatar, mengunjungi Emir sahabat saya”

Gumam decak kagum hadirin terdengar. Sang bapak pembicarapun bergegas meninggalkan ruangan diikuti oleh seorang wanita cantik, nampaknya sekretarisnya.

Para hadirin rame mengerubungi meja pendaftaran seminar, baik untuk booking seminar berikut ataupun untuk membeli buku. Sebagian lagi berjalan berombongan ke ruang makan.

Aku berjalan keluar ruangan dan terus berjalan ke parkir. Seorang wanita cantik telah menunggu di dalam sebuah mobil.

“Bagaimana pa, seminarnya ? Bagus kan ? Dia sudah jadi pembicara tingkat ASEAN lho pa…diundang ke berbagai negara. Booking tempat untuk datang seminarnya saja harus jauh-jauh hari pa”

“Mama buang-buang uang saja dan buang-buang waktu papa. Yang papa lihat tadi itu tak lebih dari seorang badut motivator biasa saja. Semua isi omongannya bisa mama temukan di mana-mana, nothing special”

“Aih…papa kok gitu sih. Mama sengaja pesan undangan seminar karena melihat papa akhir-akhir ini kayak kurang semangat gitu”.

“Papa akan semangat kalau tiap hari bisa berduaan sama mama. Ketimbang ikut seminar begitu, mending waktunya buat kita ma…”

“Aih si papa genit…itu sih harus pa…” wanita cantik itu mencium pipiku. Ah…rasanya sebagian masalah di kepalaku menguap, berganti hasrat memburu kesenangan. Dan mobil kami pun beranjak keluar halaman gedung.

Tiba-tiba alunan lagu Yesterday dari Beatles terdengar. Suara nada pesan masuk di ponselku. Kubuka. Ada pesan dari orang penting di hidupku.

“Kenapa belum pulang juga ke rumah ? Apa seminar itu sangat penting sampai nggak bisa ditinggal ? Anak-anak protes kamu keseringan pergi. Masak sampai akhir pekan juga ada seminar ? Sudah seminggu lho ayah di Palembang”

“Iya sayang. Mau bagaimana lagi ? Ini tugas kantor, sama saja tugas negara. Seminar ini dikhususkan buat karyawan yang hendak menduduki jabatan penting di kantor. Besok aku segera pulang, hari ini mau istirahat dulu, capek banget”

“Oh…jadi ayah sedang tugas penting ya ? Baiklah…nggak apa-apa kalau begitu. Asal bener tugas yah, bukan main perempuan”

“Aduuh sejak kapan ayah main perempuan ? Kesetiaan ayah kan sudah teruji bertahun-tahun bunda”

———————————–

“Chat dari siapa pa ? Kok kayaknya panjang banget ?” wanita cantik di sebelahku saat ini, bertanya sambil tetap konsentrasi mengemudi.

“Ah…bukan siapa-siapa, rekanan, biasa mau macam-macam dia. Aku balesin chat dia dulu ya…”

————————————–

“Ayah jangan lupa oleh-olehnya lho”

Dalam hati aku bersyukur, “bunda” ku yang lugu ini mudah menerima alasanku. Pikirannya sederhana, oleh-oleh

“Apa ?”

“Bunda kan sudah ngomong lama banget…diamond, ayah, seperti yang bunda tunjukkan gambarnya dulu itu”

Apa ??? Gawat…”mama” juga kujanjikan berlian dan belum terlaksana. Belum lagi si “adinda” minta paket wisata juga belum kuturuti. Sepertinya harus nguras tabungan ini. Biarlah, yang penting suasana damai, aman, tentram, terkendali.

“Jangan sekarang ya ma, papa kan nggak ada waktu belanja-belanja. Nanti saja pulang ke Surabaya, papa antar mama belanja. Oke ?”

“Mama ?????! Sejak kapan ayah panggil bunda dengan mama ? Mama itu siapa ???! Ini ayah lagi main perempuan lagi ya ?”

Aku gelagapan. Jantungku seperti mau lepas. Ya ampun…kenapa bisa typo begini sih.

“Typo bunda…typo…maksud ayah itu bunda.”

“Aaah…nggak mungkin typo ! Ini pasti ayah sedang pacaran lagi ! Ngaku saja ! “

“Sumpah bunda….”

Japri putus tak terjawab. Perasaanku langsung resah. Aku segera menekan nomer kontak bunda. Direject. Telpon lagi….reject lagi. Sampai akhirnya telponnya dimatikan. Gawat…perang dunia sudah pecah lagi.

“Ma….nggak jadi pulang ke rumah, maaf. Papa ganti taksi, harus ke airport, papa mendadak harus ke Surabaya. Ada rekanan ngancem mau batalin kontrak sepihak. Papa harus segera ke sana…”

“Aduuuh..kenapa bisa begitu sih pa. Iya deh iya…itu di depan ada taksi. Jadi papa kapan lagi pulang ?”

“Minggu depan, papa janji. Papa akan ambil cuti kalau perlu”

Mobil berhenti di depan taksi. Aku beranjak keluar untuk berpindah taksi. Sebelum berpisah, aku mencium “mama”. Nampak bulir air mata mulai menggenang di pelupuk mata wanitaku. Tapi ia nampak menguatkan dirinya.

“Hati-hati di jalan ya pa. Cepet pulang ya. Telpon terus ya pa”

Aku melambaikan tangan perpisahan. Rencana indahku hari ini buyar.

Di dalam taksi aku tercenung. Ancaman perang besar sudah terlihat di depan mata. Begitulah akibatnya jika berbagi cinta. Tapi apa dayaku. Kondisi membuatku tak bisa menempuh jalan lain. Aku bukan orang suci yang terbebas dari hasrat sebagai laki-laki. Baiklah….tenangkan pikiran…sekarang yang terpenting adalah menghadapi masalah ini.

Terngiang-ngiang di telingaku, nasihat sang motivator tadi. Untuk jadi berlian, alam harus menekanmu dahulu. Be diamond be success !

Yes…anggap tekanan-tekanan para wanitaku ini adalah proses alam membentukku jadi laki-laki berkualitas berlian. Gagal paham ? Oh tidak, terserah dong orang mau menginterpretasikan kalimat itu. Senyum mulai mengembang.

Sepanjang perjalanan, benakku penuh dengan berbagai rancangan kalimat rayuan peluluh hati yang akan kulontarkan pada “bunda”. Sementara tanganku sibuk merangkai pesan maaf dan kangen untuk “mama” di ponsel. Dan sepotong foto selfieku untuk “adinda” yang pendiam dan tak banyak tanya. Aku benar-benar sedang berproses menjadi laki-laki berlian.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s