Medang Madang Jagongan di Loko

Buat saya, badan terasa kurang segar dan kepala puyeng jika belum menghirup setidaknya secangkir kopi. Pernah mencoba berhenti ngopi dan berhasil selama dua minggu. Sebagai gantinya saya hanya mengkonsumsi air mineral, jus buah dan susu. Badan memang rasanya lebih segar sih. Tapi hati kok jadi hampa qiqiqi. Makanya saya memutuskan kembali ngopi.

Sebagai sesama penggemar kopi, Totik, anak semata wayang saya, suka kelilingan nyoba kopi di kedai2 kopi. Totik sangat sangat pemilih untuk soal kopi. Kadang dia harus nanya2 dulu ke barista sebelum memesan. Jenis kopi apa yang tersedia, metode seduh apa yang ada, kopi ini cocoknya diseduh dengan metode apa dll. Saya tidak serewel itu. Bikin secangkir kopi Toraja kalosi di rumah pun sudah cukup.

Kadang-kadang saya merasa bosan juga dengan suasana kedai kopi yang begitu-begitu saja. Kalau tidak bertempat di mal, maka kedai kopi umumnya menempati bangunan yang dinilai unik, diikuti penataan interior secantik mungkin. Modern, classy atau natural. Pada awalnya senang sih menikmati tempat-tempat cantik begitu, tapi atmosfer yang ada hampir selalu sama, tak ada keistimewaan.

Nah, saat ke Yogya minggu lalu, seorang teman , Ferry, merekomendasikan untuk berkunjung ke Loko Coffeeshop.

“Di mana itu ?” tanya saya. Meskipun sdh jadi kebiasaan, tanpa nunggu jawaban, jari saya secepat kilat menelusur Loko di googlemaps.

“Di depan stasiun Tugu, dekat Malioboro. Kapan mau ke sana, biar temanku jemput”

Waduh, saya ini tipe yang suka keluyuran tanpa jadwal, spontan , bakal susah model janji begini. Jadi saya bilang akan ke sana sendiri saja. Iyalah, Yogya itu banyak tempat unik, saya pasti biyayakan tiap hari.

Maka di suatu sore, setelah puas berkeliling menikmati keindahan tempat bersejarah, Taman Sari (kompleks permandian putri & istri raja milik kraton), saya dan Totik langsung meluncur dengan grab-car  ke Loko. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Cuaca cerah dan udara terasa hangat. Pas sekali untuk menikmati kopi.

Oh ya, sekedar info, Yogya itu kemana-mana dekat.  Sehingga krn saya memanfaatkan grab untuk kelilingan, kadang sungkan juga dengan mas supir , karena biaya cuma sekian ribu. Mana drivernya baik2 lagi, khas orang Yogya yg terkenal ramah. Jadi jangan lupa kasih tips seikhlasnya jika di Yogya.

Nah balik ke perjalanan tadi, kami diturunkan tepat di depan  signature besar dg huruf berwarna merah dan kuning mencolok, berbunyi YOGYAKARTA. Lokasinya tepat sebelah rel kereta stasiun Tugu, dan seberang hotel Whiz.

Tagline Unik

Ternyata di balik signature itulah letak Loko. Loko memiliki tagline unik,  terdiri dari 3 kata yang berasal dari bahasa Jawa ngoko (bukan Jawa halus atau kromo) yakni

  • Medang ( minum)
  • Madang ( makan )
  • Jagongan ( Nongkrong )

Sepertinya si pemilik sengaja memilih bahasa Jawa ngoko, yang biasa dipakai antar teman, untuk memunculkan kesan akrab, santai dan terbuka bagi semua kalangan. Selain tentu keunikannya.

20180830_175118 - Copy
Neon sign LOKO dan taglinenya. Sumber : Dokpri

Loko sendiri secara garis besar memiliki area indoor dan outdoor. Yuk lihat indoornya dulu seperti apa.

Area Indoor

Bentuknya berupa bangunan semi terbuka dalam arti tanpa dinding masif, dengan bangku-bangku berjajar ala angkringan. Semuanya memakai komponen kayu dan batu alam, sangat natural.

Plafonnya bergaya ekspose, tanpa langit-langit, sehingga rangka atap bisa terlihat. Di situ nampak tergantung lampu-lampu dengan model jadul , mirip seperti di stasiun jaman dulu.

20180830_170753
Area indoor semi terbuka. Nampak bagian belakang signature YOGYAKARTA dan jalan raya. Di plafon berderet lampu-lampu gantung model kuno. Sumber : Dokpri

Karena tanpa dinding masif, hanya sebatas kolom-kolom penyangga, pengunjung bisa masuk dari arah mana saja, duduk di mana saja, memandang ke segala arah. Pandangan ke lingkungan luar juga terasa lebih bebas namun privacy tetap terjaga. Disainernya nampak sangat pede bisa membentuk batas imajiner. Bentuk semi terbuka ini juga seakan menghapus batasan antara Loko dan lingkungan. Saya berdecak kagum melihat tatanan interiornya.  Tidak ada kesan mewah, yang muncul kesan natural, cakep tapi bersahabat. Ada terasa atmosfer egaliter di sini.  Sentilan buat kedai-kedai kopi dengan disain yang memunculkan kesan sok eksklusif hehe.

Di dalam Loko, area duduk diatur berkelompok dan dipilah dengan membedakan bentuk kursi. Pada gambar di bawah, nampak kursi-kursi model jengki vintage yang biasa ada di rumah-rumah Indonesia pada era 1940an. Nggak nyangka, model kuno begini bakal ngehits lagi sekarang. Menimbulkan rasa rindu ke masa lalu. Mengingatkan masa kecil.

20180830_170728
Kursi kursi jengki berwarna hijau Sumber : Dokpri

Sayang gambar di bawah agak blur. Tapi nampak kan ya pengelompokan kursinya. Serta komponen interiornya yang unik. Meskipun berkelompok, karena sifatnya terbuka, ada kesan kebersamaan. Orang-orang bisa duduk membaur.

20180830_170744
Pandangan dari area duduk ke bar Sumber : Dokpri

Selain bangku-bangku memanjang ala “angkringan” ada juga meja-meja bulat kecil untuk mereka yang lebih menyukai kelompok kecil.

20180830_170804
View di lorong penghubung dari indoor ke outdoor area Sumber : Dokpri

Dekorasi Dinding dengan Doodle Art

Ada kamar mandi dan musholla yang sangat bersih. Masih baru. Moga-moga bisa terawat untuk seterusnya. Nah di dekat kamar mandi, ada area cuci tangan yang sangat menggoda mata. Eye catchy, bahasa gaul anak sekarang.  Apanya yang menggoda ?Gambar dekorasi dindingnya. Gambar hitam putih dengan gaya doodle art. Keren ya ? Sebagai penggemar doodle art, sudut ini sangat menarik hati saya. Gemes…pingin ikut-ikutan coret-coret juga qiqiqi

20180830_170823
Dekorasi dinding bergaya doodle art Sumber : Dokpri

Ngopi Bareng Presiden Presiden RI

Dekat area wastafel, ada pemandangan unik. Gambar dan replika gambar berukuran besar dari presiden-presiden Republik Indonesia. Lucunya, semua dibuat bergaya “kartun” dan sedang ngopi. Ada juga quote atau kalimat2 khas dari para presiden. Kita bisa lho foto2 di situ. Yang beginian nggak ada di tempat lain.

20180830_170654
Presiden Presiden Pencinta Kopi Sumber : Dokpri

Kitchen Bar

Di area indoor ini terdapat sebuah meja bar dengan kursi-kursi tinggi mengelilingi.  Berbentuk letter U. Jika duduk di situ, pengunjung bisa melihat langsung bagaimana minuman pesanan diracik. Tapi untuk makanan sepertinya tetap diproses di dapur. Dinding meja bar juga didekorasi dengan doodle art.

20180901_210621
Dinding bawah bar dihiasi doodle art. Lihat yg berjaket jingga ? Bener2 otaku. Ngegame tanpa peduli sekitarnya. Hehehe Sumber : Dokpri

Saya berkunjung ke Loko 3x. Kami jatuh cinta pada coffeeshop ini hehehe. Pada malam Minggu, hampir semua tempat duduk di Loko penuh. Kursi-kursi tinggi  di bar yang biasanya kosong, karena pengunjung lebih suka duduk di area outdoor, ikut penuh.

20180901_210636
Full pengunjung Sumber : Dokpri

 

Outdoor Area

Nah sekarang kita bahas outdoor area. Loko juga memiliki area duduk  yang full terbuka, beratapkan langit dan rindangnya dedaunan. Lokasinya ada di bagian depan Loko, tepat di sudut persimpangan jalan Malioboro dan rel kereta.

Jika kita duduk di situ, maka kita akan bisa menikmati keramaian Malioboro secara nyata. Mulai dari para pejalan kaki , becak, pedagang asongan, dokar dan mobil, yang hilir mudik bisa anda lihat, sambil menghirup kopi dan ngobrol. Seolah-olah kita ngopi di tengah jalan raya. Keren kan ?

Malam Minggu dan Malioboro, dua hal ini seperti magnet bagi penghuni & siapapun yang lagi di Yogya.  Keramaian bisa berlipat-lipat dari hari biasa. Kita bisa melihat bapak-bapak polisi berjaga. Ada juga orang-orang berkostum hantu. Kalian bisa berfoto bersama mereka dan membayar sekedar tips. Hilir mudik orang jangan ditanya lagi.

Di outdoor area ini, setiap beberapa waktu, kita juga bisa melihat pintu palang rel  kereta api ditutup, diiringi gaung sirine peringatan. Arus lalu lintas akan terhenti, dan sesaat kemudian deretan gerbong kereta api akan lewat. Asyik ya, ngopi dan nonton kereta lewat.

Bukan itu saja, sesekali tepat nun jauh di atas tempat duduk anda, akan melintas pesawat terbang. Saya juga heran, lewatnya kok seolah bisa persis di atas situ.

20180830_175124 - Copy
Suasana santai di outdoor area Sumber : Dokpri
20180831_184709 - Copy
Suasana di outdoor area Loko Sumber : Dokpri

Di area outdoor ini terdapat juga panggung terbuka tempat Loko menggelar live music. Live music nampaknya setiap hari ada. Dimulai jam 8 malam ke atas. Jadi buat yang ingin melihat, mending datang malam saja.

Saya pernah datang jam 7 dan melihat ternyata persiapannya cukup lama. Pemain musik harus ngecek suara dulu, “Check sound…check..check” begitu berpuluh-puluh kali. Lalu nampak penyanyi minum aqua dulu biar nggak haus hehehe. Ketika udah terlihat siap, gitaris dan vokalis sudah duduk di kursi panggung, eh ternyata  si penyanyi buka dompet dulu, ngitung isinya hahaha…lalu ngambil aqua lagi. Lalu ketika gitar udah mulai dipetik, penyanyi sudah mulai buka mulut, eh kereta api lewat. Habis itu, eh ternyata check sound lagi. Hadeeh… Totik cekikikan melihat ekspresi emaknya yg nggak sabar.

Nah Pas kunjungan di malam Minggu karena saya datang jam 8, live music sudah dimulai. Lumayan bagus meskipun lagunya…agak melow hahaha. Penyanyi juga cukup interaktif dengan pengunjung. Kebetulan di depan panggung saat itu duduk rombongan wisatawan dari Malaysia. Penyanyi sedikit mewawancarai mereka.

20180830_175134 - Copy
Panggung live music Sumber : Dokpri

 

20180831_190346 - Copy
Dari area outdoor bisa melihat langsung ke Hotel Grand Inna, di sudut Malioboro Sumber : Dokpri

Kopinya

Bagaimana dengan kopinya ? Di meja dekat kasir, ada deretan stoples-stoples berisi koleksi kopi yang dimiliki Loko, lengkap dengan nama dan asalnya. Ada sekitar 30 stoples. Selain itu juga ada kemasan-kemasan kopi bubuk dengan beberapa ukuran.. Pengunjung bisa membeli sebagai oleh-oleh.

Untuk metode seduhnya, ada berbagai macam. Mulai dari vietnam drip, espresso sampai V60

20180830_175354 - Copy
Deretan botol contoh koleksi kopi Loko. Sumber : Dokpri
20180830_170948
My darling, Totik sedang duduk nunggu kopi pesanannya Sumber : Dokpri

Makanannya

Ada banyak jenis makanan yang ditawarkan. Mulai dari makanan berat maupun berbagai kudapan. Yang pernah saya dan Totik cicipi antara lain, nasi rawon iga, cordon bleu, nasi goreng, kentang goreng, singkong, pisang goreng dan mendoan. Lumayan kok. Rawon Iganya bagi Totik terlalu berlemak tapi rasanya sedap. Untuk mendoannya kurang oke yah, hambar.

20180830_171029
Nasi Rawon Iga Sumber Dokpri
20180830_171043 - Copy
Rawon Iga Sumber : Dokpri
20180830_171304 - Copy
Kopi single origin, Puntang atau Halimun ya kok lupa. Sebelahnya pisgor Sumber : dokpri
20180831_190746
Singkong goreng disajikan dg sambal terasi begini ternyata enak lho. Sumber : Dokpri
20180831_190553
Nasi goreng entah apa, lupa. Sumber Dokpri
20180901_213114
Cordon Bleu ala Loko Sumber : Dokpri

 

The Man Behind LOKO

Pas lagi asyik mencicip kopi, Ferry mengirim pesan

“Sudah di Loko ? Coba cari Wisnu BJ, temanku. Dia “memedi” nya Loko”

Hah ? Memedi ? Pikiran saya langsung ke film mafia, qiqiqi. Ia pun mengirim foto Wisnu BJ yang dimaksud. Hmm…gondrong, sangar. Baru ngamatin foto..eh..tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki berkaos t shirt putih dan jeans belel serta rambut gondrong dikuncir menghampiri saya. Sekilas saya ngeliat  berjenggot dan dikuncir. Dia menyapa dan memperkenalkan diri sebagai Wisnu BJ. Orangnya sangat humble dan bersahabat.

Ternyata…dialah orang yang ada di belakang Loko, sang konseptor.

“Ini bukan milik saya, ini milik PT KAI. Saya hanya diserahi untuk membenahi. Kalau kafe milik saya ada di Prawirotaman. ( Red. Selli Coffeeshop, yang dipakai sebagai tempat shooting AADC 2 )”

Perbincanganpun mengalir lancar, karena mas Wisnu  ini orangnya mudah akrab. Beliau menjelaskan bahwa lahan milik KAI ini dulunya kumuh dan terbengkalai. Kemudian beliau diminta untuk membenahi. Berbekal latar belakang pendidikannya sebagai  Disainer Interior dari ISI Yogyakarta, tangan dingin beliau mampu mengubah lahan tak terurus menjadi sebuah coffeeshop cantik yang bisa menjadi icon kota Yogya. Saya memang bersahabat sejak dulu dengan beberapa lulusan Interior ISI dan harus saya akui, karya2nya mantap.

Berdasarkan hasil browsing, ternyata memang PT KAI punya anak perusahaan bernama  PT Reska Multi Usaha, yang akan mengembangkan jaringan Loko Coffeeshop di beberapa stasiun di kota-kota yang berpotensi. Ini nggak lepas dari direkturnya yang hobby ngopi juga. Dalam artikel yang saya baca, rupanya ada kerjasama juga dengan KKN atau Komunitas Kopi Nusantara. Barista yg di Loko berasal dari KKN.

IMG-20180830-WA0038
Nah ini mas Wisnu (paling kanan) Sumber : Dokpri

Sayang kesempatan kami ngobrol hanya sebentar. Mas Wisnu harus mendadak pergi untuk suatu keperluan. Meskipun cuma beberapa menit, saya cukup senang bisa ketemu beliau. Selebihnya saya menghabiskan waktu nongkrong sambil melihat2 suasana Loko.

Berbagai kalangan datang dan membaur di situ. Laki perempuan berbagai usia dan bangsa. Dari yang bersandal jepit, dandan rapi sampai rombongan turis backpaker-an, semua datang membaur. Satu bangku panjang kadang terisi oleh berbagai kelompok. Atmosfernya sangat beda dg tempat2 lain. Santai, terbuka dan begitu egaliter. Ditambah lokasinya. Yogya bener2 beruntung punya tambahan satu icon wisata lagi, Loko.

Congratulations mas Wisnu, semoga sukses menjadi masinis Loko ! Nggak sabar ingin nyambangi Sellie Coffee milik beliau di waktu yang akan datang.

Nggak lupa juga……

Thanks a lot Ferry for your advice.

20180830_175118 - Copy

Iklan

2 Comments Add yours

  1. Arif Triono berkata:

    ijin share ya..tks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s