The Last Word on The Last Day of 2018

Penghujung tahun berarti liburan panjang hingga awal tahun. Ada yang langsung ambil cuti dari tanggal 24 Des sampai 2 Januari, ada juga yang terputus-putus. Tetapi umumnya,  orang-orang akan memulai dengan 3 ( tiga ) ritual yang sama.

Piknik

Pertama, melakukan perjalanan mengunjungi tempat-tempat wisata yang indah, memuaskan diri cuci mata menikmati indahnya alam ciptaan Allah. Puas-puasin selfie dengan berbagai latar dan gaya. Tak heran nyaris semua obyek-obyek wisata di berbagai pelosok negeri, dari yang free alias gratisan hingga yang berbayar dollar, akan dipenuhi wisatawan. Mulai dari wisata alam hingga obyek rekreasi super modern, jadi incaran. Kemacetan ada di mana-mana. Orang Semarang ke Yogya, orang Yogya ke Semarang, orang Bandung ke Jakarta, orang Jakarta ke Bandung, dsb.  Kemarin bahkan tol masuk Semarang di Banyumanik saja antrean mencapai 5 (lima) kilometer !

Kulineran

Ritual kedua, adalah melakukan wisata kuliner. Wisatawan yang kesehariannya hidup di kota besar, selfie dengan senyum lebar nan bahagia, berbagi foto saat menikmati sepincuk Cabuk Rambak khas Solo, misalnya. Berbagai tempat kuliner bergaya “ndeso” atau ndeso beneran, diserbu. Tahun lalu, seorang teman ada yg nyaris nangis, ketika tidak kebagian tempat & lauk di Kopi Klotok Sleman, sebuah tempat makan ala ndeso. Keinginan makan masakan rumahan ala ndeso dan menikmatinya sambil memandang sawah yang hijau, sudah seperti impiannya tiap hari. Kesian juga orang-orang kota ini.

Resep Cabuk Rambak Khas Solo
Illustrasi : Cabuk Rambak Solo

Sementara yang sehari-hari makan sego pecel, nampak bahagia membagikan fotonya sekedar ngemil kentang goreng di waralaba terkenal. Ada yg happy banget nyruput kopi di gelas plastik bergambarkan putri duyung hijau, sementara ada yang bolak balik motret dan upload foto kopi jahe tubruk di cangkir blirik. Begitulah, beda nilai tapi sama-sama berdampak kebahagiaan.

20180901_113201
Illustrasi : Cangkir Blirik

Tontonan

Sebagian orang ada yang melakukan ritual liburan ketiga, yakni mencari tontonan. Setelah bosan ke tempat wisata dan kulineran, maka orang-orang juga menyerbu berbagai tontonan, mulai dari berbagai konser musik hingga film bioskop. Saya sebagai penggemar film termasuk ikutan antre karcis Bumblebee dan Aquaman. Film hitech yang spektakuler secara teknologi, tapi narasinya kurang meninggalkan kesan mendalam di hati.

The Last Word bersama Shirley MacLaine dan Amanda Seyfried

lastword1-e1489067796437
The Last Word

Akhirnya saya justru menemukan film berkesan yang bisa memberi pelajaran berarti dalam hidup. Tidak di bioskop, tapi di tv kabel. Berjudul The Last Word , tayang di channel HBO. Film ini merupakan film lama, produksi tahun 2017. Di HBO pun sudah berkali-kali tayang. Semula saya menganggap sebelah mata saja film ini. Pertama nonton cuma separuh bagian depan, kemudian nonton berikut juga sambil lalu saja. Baru semalam saya menonton ulang secara penuh. Dan….ternyata film sederhana ini sangat sarat makna. Saya tidak hendak menulis sinopsisnya atau reviewnya. Karena sudah banyak sekali tulisan tentang itu. Pembaca bisa membacanya di Sinopsis dan Review The Last Word 

Saya hendak menulis nilai-nilai penting pelajaran hidup yang saya dapat dari The Last Word. Entah bagi pembaca ini bermakna atau tidak, tapi bagi saya The Last Word memberikan nilai tambah menjalani hidup.

Pelajaran Hidup Penting dari The Last Word

 

1. Berperanlah membuat perbedaan bagi kehidupan orang

Harriet Laurel (diperankan Shirley MacLaine) seorang pengusaha sukses, menjelang hari tua sedang mempersiapkan berita kematian ( obituari ) dibantu seorang penulis bernama Anne ( Amanda Seyfried ). Anne mendapati kenyataan bahwa semua orang yang mengenal Harriet mengatakan bahwa beliau menyebalkan, mengerikan dan berbagai kesan buruk lainnya.

Harriet tentu kecewa. Tapi kemudian dia menyadari bahwa setiap obituari dari orang hebat memiliki beberapa kesamaan mendasar : almarhum/ah dicintai oleh keluarga mereka, dihormati oleh rekan kerja mereka.

Lantas Harriet berpikir bahwa cinta dari keluarga dan rasa hormat dari rekan kerja adalah hal yang tidak perlu untuk saat itu. Alih alih berusaha mencari respek dari keluarga dan teman kerja, Harriet mulai mencari seseorang yang hidupnya dapat dia sentuh. Bertemulah ia secara tak sengaja dengan Brenda, anak perempuan kecil berkulit hitam yang suka marah dan memaki. Melalui satu percakapan yang tak terduga, mereka menjadi bersahabat.

Bukan Brenda saja, Harriet juga mulai menjalin persahabatan dengan Anne. Anne, sang penulis obituari, semula membenci Harriet ketika pertama kali bertemu dengannya. Namun seiring berjalannya film, antipati itu berubah menjadi rasa hormat, yang tumbuh menjadi kasih sayang, yang akhirnya berkembang menjadi sesuatu seperti cinta. Dan karena pengaruh Harriet, Anne yang “penakut” melanjutkan untuk membuat beberapa perubahan besar dalam hidupnya sendiri.

Harriet tahu, Anna adalah sosok yang penuh dengan keinginan. Ingin berpetualang, bercinta, menulis buku hebat. Maka ketika disodori buku tulisan Anna, dia bilang “Tulisanmu bagus, tapi itu adalah khayalan seorang anak gadis. Tulislah kisahmu sendiri”. Anna yang penakut terkejut karena Harriet seperti memberi sentilan keras pada nyalinya. Itu seperti suntikan keberanian bagi Anne untuk menjalankan kisahnya. Dia pun datang ke stasiun radio, dengan berani mencium sang kepala stasiun yang diam2 dia taksir dan berpacaran. Dan di akhir kisah, dia resign untuk berpetualang sendiri ke Andalusia, berbekal hadiah tiket dari Harriet.

download
Anne si penakut

Seperti Harriet, kita terkadang lupa bahwa dunia tidak berputar di sekitar kita saja. Kita adalah bagian kecil dalam kehidupan alam semesta ciptaan Allah yang jauh lebih besar. Dan apa yang paling penting dalam alam semesta itu ?  Interaksi, hubungan. Bagaimana kita berinteraksi dan memperlakukan orang lain itu penting . Setiap interaksi yang kita miliki mungkin memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Bagaimana caranya ? Mulailah dari bertanya pada diri sendiri, kapan terakhir kali anda berinteraksi dengan orang di luar lingkungan anda ? Mulailah dari titik tersebut dan anda akan menemukan sendiri jawabannya. Biarkan interaksi itu membawa langkah anda,  mengalir seperti saat Harriet berhubungan dengan Brenda dan Anne.

2. Resiko Kegagalan

Harriet berkata, “Gagal ? Gagal lah secara spektakuler. Ketika Anda gagal, maka Anda belajar. Ketika Anda gagal, maka Anda hidup. “

Yang ini sebenarnya agak klise. Tapi tetap saja ini merupakan saran yang bagus. Tentu film ini tidak berbicara tentang kegagalan moral. Harriet menganjurkan agar kita berani untuk mengambil risiko. Untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Karena anda akan menemukan kehebatan di luar zona nyaman. Saya pikir di situlah kita menemukan tujuan yang diberikan Allah juga. Sejujurnya, saya pikir Allah tidak suka kita terlalu nyaman. Dia ingin kita melakukan hal-hal besar dalam nama Allah, dan kebesaran selalu beresiko.

Belum lama ini, saya mengikuti reuni bersama teman-teman kuliah. Salah satu sesi acara diadakan di Kandang Ingkung resto. Sebuah tempat makan bernuansa alam, di pelosok desa, di daerah perbukitan, dengan rerimbunan pohon-pohon besar, bagai tempat Robinhood atau tuan Flintstone berdiam, sangat unik. Tempatnya ada di pelosok perbukitan Sleman. Saya tidak tahu persisnya, tapi ada kok di google maps Kandang Ingkung resto . Kalau mau lengkapnya buka webnya saja di Kandang Ingkung Resto

 

Beberapa foto di atas menggambarkan momen keceriaan reuni kami

Sekedar intermezzo, makanannya lezat lho. Ayam ingkungnya dimasak dg bumbu ungkep, garang asemnya dimasak dalam bambu yang dibakar tungku. Kopinya ? Apalagi. Bisa pilih jenis kopi yang disukai, bisa pilih mau dijerang dengan air jahe atau biasa, mau diberi gula batu atau gula pasir. Semua mantap. Duh perut saya jadi krucuk-krucuk ini nulis. Ada juga arena memanah. Saat nulis ini kok saya jadi terinspirasi bikin fiksi , kalau judulnya “Memanah Mantan” bagaimana ? Qiqiqi. Oke balik ke Kandang Ingkung.

Pemiliknya adalah kakak kelas kami, mas Puguh.  Sebagai mahasiswi kuper, jujur saya tidak mengenal beliau. Bahkan baru saat reuni itulah saya tahu yang namanya mas Puguh hehehe. Tapi dari cerita teman2,  mas Puguh adalah seorang arsitek yang kariernya sudah sangat mapan. Sungguh mengherankan beliau berani meninggalkan semuanya dan merintis bisnis baru di bidang kuliner. Kabarnya beliau memiliki homestay juga. Orang mungkin dulu jg pada heran ya, kok mau sih meninggalkan karier yang sudah mantap dan buka kulineran, di desa lagi. Tapi saya pikir-pikir, jika dulu mas Puguh ini tidak berani keluar dari zona nyamannya, tidak akan ada Kandang Ingkung sebagai salah satu icon kuliner Yogya. Keberanian beliau ternyata bermanfaat luas, termasuk bagi kami, para adik kelasnya. Bisa mengukir satu momen kenangan manis di sebuah tempat bernama Kandang Ingkung. Di sana bahkan kenangan pahit juga bisa dipoles jadi manis. Qiqiqi

Kenapa saya tulis tentang dia ? Karena pas dengan saran Harriet di The Last Word, point 2 tadi. Itu cuma satu contoh cerita ya.

Satu lagi ya. Foto perempuan tersenyum manis di bawah ini adalah Yuliarta, teman kuliah saya.

IMG_2923-01
Yuliarta AS

Belasan tahun yang lalu dia resign dari posisinya sebagai arsitek di sebuah perusahaan dan menekuni dunia marketing properti. Waktu itu dia berkata, “Saya ini bukan saudara dari pemiliknya, saya nggak bakal jadi direktur di situ, karier saya akan segitu-gitu saja”. Maka dia dengan tekun menjalani usahanya.

Bagaimana caramu melakukan ?

“Aku itu hanya modal menempelkan papan-papan iklan di pohon. ( saat itu belum jamannya baliho dan mmt ) Menawarkan ke pemilik2 usaha di Senen. Jangan salah lho, biar tokonya kecil, mereka itu sekali ngambil unit (properti) bisa dua atau tiga. Aku beri tambahan free service jasa, membuatkan disain interior buat mereka. Nggak papalah, aku toh cuma modal semalam nggak tidur buat lembur”. Begitu kisahnya dulu ketika memulai usaha.

Sekarang beliau ini sudah memiliki agen properti besar berkelas premium, milik sendiri, yang bukan hanya bergerak di pemasaran tapi juga developer. Keren ya. Itu berdasar cerita ke saya duluu banget.

Tentu saja masih banyaaak banget orang-orang yang berani mengambil resiko kegagalan. Tidak semuanya sukses. Banyak yang gagal di sepanjang jalan. Mereka mengalami kemunduran. Mereka bertanya-tanya apakah semua itu sepadan. Tapi kita harus ingat bahwa tidak setiap risiko membayar dividen.

Terkadang kita gagal dan melanjutkan ke usaha berikutnya. Tetapi itu tidak berarti bahwa risikonya tidak berharga lho. Bagaimana jika gagal, biasanya kita bertanya begitu. Jarang yang berpikir, bagaimana jika kita berhasil ? “Apakah Anda bersedia mengambil risiko untuk melakukan sesuatu yang hebat?” seharusnya begitu kita berpikir. Jadi…setiap resiko punya nilai.

3. Jalani Passionmu

Harriet memang wanita yang unik. Pada usia 81, dia dengan berani masuk ke sebuah stasiun radio lokal dan meminta dipekerjakan sebagai DJ. Dia sangat yakin dengan segala pengetahuannya tentang musik dan seleranya yang bagus, stasiun radio itu mau mempekerjakannya. Menemui kepala stasiun radio bersama Brenda kecil, menyeret trolley penuh berisi piringan hitam koleksinya, ia tak peduli dengan pandangan meremehkan para staf yang muda-muda.  Dan nenek tua ini berhasil merebut hati setelah terbukti dia memang piawai. “Pecat DJ itu, suaranya tipis dan seleranya jelek”, kata Harriet dengan menunjuk pada DJ lama. Saya terkesan dengan keberaniannya. Harriet memang tidak bermodal omong kosong. Siaran perdananya menuai sukses. Usia 81 th bro…wow…umur memang hanya sekedar angka jika kamu berani memulai.

Jadi ingat, setahun lalu kawan saya ingin menekuni dunia kuliner profesional. Dan tepat setahun kemudian, setelah lulus kuliah masak setahun , ia menjadi chef profesional di sebuah kafe kecil. Inilah kali pertama dia menjalani hidupnya sesuai passion. Saya sempat membuat gambar graphis tentang dia. Sayang dia sangat pemalu dan hanya ingin hadir sebagai anonim.

Keluarkan passionmu, hiduplah dengan gayamu, jadi dirimu sendiri. Jangan jadi pengekor. Begitu kira-kira pesan The Last Word.

IMG-20181129-WA0006

 

4. Hitunglah Setiap Harimu

Saat menjadi DJ, satu pagi Harriet mengucapkan kata-kata ini “Please, jangan bersenang-senang,” katanya. “Semoga harimu penting … semoga harimu bermakna .”

20181231_070533_0001

Hari-hari yang indah itu hebat , tetapi Harriet menyadari bahwa itu bukan warisan kematian yang berarti. Obituari yang luar biasa — kehidupan yang luar biasa — datang dari menggunakan semaksimal mungkin setiap menit yang diberikan kepada kita. Tidak peduli bagaimana Anda mengisinya, hidup ini singkat dan terus berkurang. Kita harus memanfaatkannya sebaik-baiknya.

0c9f1ef7-64e7-4e61-9229-59a9f468d97f._SL220__
Brenda

Brenda, si kecil, meringkas kata-kata terbaik The Last Word dengan ringkas: “Allah menjadikan Anda ke dunia untuk menjadi sesuatu.” Bagaimana kita bisa menjadi orang yang Allah inginkan? Dengan hidup setiap hari semaksimal mungkin. Dengan mengambil risiko termasuk mengambil risiko gagal. Dengan mempengaruhi kehidupan orang menjadi lebih baik. Dengan mengikuti passion.

Jadi jika anda ingin seperti Harriet, meninggalkan warisan berarti bagi kehidupan di alam semesta, mulailah berkonsentrasi pada 4 elemen tadi.

2144
Anne, Harriet & Brenda

Keren ya The Last Word ? Tulisan tentang nilai-nilai hidup yang keren ini akan menjadi tulisan penutup tahun 2018. The Last Word on The Last Day of 2018.

Selamat Menyambut Tahun Baru 2019. Selamat menjadi manusia yang lebih berarti bagi semesta. Good bye

20181229_141828
Selamat Tahun Baru 2019

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s