Para Anonim

para-anonim-58ac05a7ba937313055474cb

“PERCERAIAN”

Siapa yang menginginkan perceraian ? Ketika kalian berjalan ke pelaminan bersama pujaan hati, siapa yang membayangkan untuk bercerai ? Terbersitpun pasti tidak. Tapi saat kehidupan berjalan dan kalian menemui berbagai kesulitan untuk mencintainya, kenapa harus bertahan ? Hidup itu sebuah pilihan, judi, pun sebuah pernikahan. Ketika kalian sadar keputusan menikah itu salah, kenapa harus mengorbankan diri sendiri ? Kalian berhak bahagia sekalipun untuk itu harus bercerai. Dengan demikian, tidak selayaknya perceraian disebut sebuah kegagalan. Melainkan langkah berani untuk menggapai kebahagiaan individu.
Love , Venus

Dini mematikan laptopnya. Posting singkat telah dia kirimkan, memenuhi kewajibannya sebagai pengisi tetap kolom “Bincang Cinta” di sebuah situs online populer. Profesi yang tidak bisa membuatnya kaya raya tapi cukup untuk hidup bahagia. Venusians, sebutan untuk pembaca setianya, sangat banyak.

Sekarang Dini bersiap hendak keluar makan siang bersama Emma, karibnya. Baru hendak melangkah, ponsel berbunyi. Dini sudah hafal, pasti mbak Hera, redakturnya.

“Dini….tulisanmu kali ini sangat provokatif. Aku takut akan memancing perdebatan panjang lagi, setelah tulisanmu sebelumnya, Single, Sebuah Pilihan”

“Tapi sesuai kontrak, bukankah Dini punya kebebasan untuk menulis apapun, sepanjang topiknya sesuai ? Lagipula perdebatan panjang bukannya sangat menguntungkan, mbak ? Hitung berapa pembaca yang tertarik ngeklik artikelku ? Sponsor berebut untuk pasang iklan bukan ? “

“Betul, tapi berapa banyak juga yang bakal mengecam media kita ? Seolah-olah kita menyarankan sebuah perceraian”

“Aku cuma mencoba untuk menulis dengan jujur. Mereka yang mengecam itu mungkin tidak suka bicara fakta. Sudah ya mbak, aku ada janji makan siang”

“Terserah deh. Tapi bersiaplah menyediakan waktu untuk berdebat paaanjaaang dengan para pembacamu. Terutama si Hater. Hehehe”, tawa mbak Hera mengakhiri percakapan siang itu. Sekalipun selalu mengkritik tapi mbak Hera adalah suporter utamanya. Setelah terpesona dengan tulisan lepas Dini di berbagai situs, mbak Hera mengontraknya menjadi penulis kolom tetap.

—————————

Kedai Jawa

Kedai di ujung jalan ini tidak terlalu ramai malah lebih tepat dikatakan lengang. Hanya beberapa meja yang terisi. Padahal jam makan siang. Jauh berbeda dengan coffee shop waralaba di seberangnya, pengunjung sampai antre. Di sini suasana tenang, alunan lagu lembut terdengar di ruangan. Interiornya kuno, meja kursi kayu plitur dengan jok rotan. Langit-langit tinggi, lampu gantung jadul dan pajangan lukisan yang usianya mungkin sudah nyaris seabad. Seperti membawa kita ke jaman kolonial, jauh dari kesan modern apalagi kekinian, tapi Dini sangat menyukainya.

Mengingatkan pada rumah orangtuanya di Yogya. Makanannya juga enak, dengan resep tradisional khas Jawa, mirip masakan ibu, begitu alasan Dini. Sungguh atmosfer langka di tengah hiruk pikuk kota besar. Satu lagi, lokasinya hanya beberapa ratus meter dari kantornya. Untuk ke sini, mereka hanya perlu berjalan kaki kurang dari 15 menit.

Emma dan Dini nampak duduk di salah satu sudut ruang. Dini asyik menikmati sepiring bistik Jawa dan segelas es beras kencur. Sementara Emma asyik menyeruput es wedang kacang sembari membaca smartphonenya. Sesekali dia tertawa kecil. Mulutnya tak henti mengunyah sate pisang. Entah sudah habis berapa tusuk.

“Din, kau ini paling pintar deh memunculkan perdebatan. Coba simak kolommu ini. Baru setengah jam tayang, artikelmu sudah dibuka 5200 kali. Ada 122 komen…aaak….gilaaa ! Pantas mbak Hera berani memperpanjang kontrakmu”

Dini tersenyum-senyum.

“Qiqiqi…mereka pikir kamu bener-bener ahli dalam percintaan, padahal….. qiqiqiqi”, Emma cekikikan

“Sssst….jangan keras-keras”, jari Dini menutup mulut Emma. Ia melihat ke sekeliling. Takut ada yang mendengar. Sebagai penulis anonim, pantangan besar bagi Dini untuk membuka jati dirinya. Image sebagai pakar percintaan di bawah nama Venus, selama bertahun-tahun telah sukses dilakoni.

“Iyaaa…eh tunggu, tunggu…musuhmu, whoops…maksudku Venusians, fansmu sudah menuliskan komentar juga di sini”, Emma mengedipkan mata dan menyorongkan smartphonenya. Dini membaca sekilas. Lalu melanjutkan makan.

“Wow…bahasanya….menohok sekali” Emma terbelalak. Kemudian tanpa diminta dia membacakannya.

“Dear Venus

Tulisanmu semakin meyakinkanku bahwa kau hanyalah seorang perempuan kesepian yang tidak pernah mengenal cinta sejati, a loser, totally. Tidak sepantasnya kau menyandang nama Venus, sang dewi cinta. Apa yang hendak kau sampaikan kali ini ? Menganjurkan perceraian sebagai solusi ? Kreatifnya di mana ? Hei, kalian Venusians, masih saja mau dibodoh-bodohin oleh dia ? Selamat deh, gue sih ogah.

-R H- Reasonable Hater

Dini tersedak-sedak mendengarnya. Wajahnya memerah. Hatinya panas. Bukan sekali dua kali ini komentator yang selalu memakai nama “Reasonable Hater” ini menuliskan kecaman, hujatan atau apapun itu namanya. Akun ini sudah hampir setahun selalu meninggalkan komentar pedas padanya. Tapi seperti biasa, Dini tidak mau terpancing untuk langsung membalas. Dia memilih cooling down dulu, agar tetap bisa mempertahankan gaya bahasanya yang kalem dan datar. Karena itulah yang membuatnya disukai oleh para pembaca. Kemarahan tidak bisa dipadamkan dengan kemarahan, prinsip Dini.

“Hai, halo Emma….lagi makan juga di sini ? “ ada suara menyapa.

Emma dan Dini menoleh. Seorang lelaki yang baru saja datang dan duduk di meja sebelah nampak melambaikan tangan dan tersenyum lebar.

“Eh….kak Dito…apa kabar ? ” Emma bergegas berdiri dan menyalami lelaki tadi. Dito bersama seorang temannya, lelaki juga.

“Dini, kenalkan ini kak Dito dan kak Edwin, mereka kakak kelasku dulu waktu kuliah. Kenalkan kak, ini Dini, tetangga apartemenku”, Emma nampak sangat gembira. Dito & Edwin pun kemudian bergabung bersama mereka.

“Lagi ngobrolin apa nih, dari tadi kulihat kalian ketawa-tawa terus”, tanya Dito

“Ah enggak kak, bukan apa-apa” jawab Dini. Tapi Emma sudah langsung menyodorkan smartphonenya ke Dito. Dito mengernyitkan dahi saat membacanya.

“Ooh…kalian pembaca kolom Venus ? Venusians ? Bukannya itu untuk konsumsi remaja atau ibu-ibu kurang kerjaan dan bukan wanita karier seperti kalian ? ” tanya Dito. Ia menyeringai. Ada sedikit ekspresi geli. Dini tersinggung. Tapi dia berusaha tetap nampak santai.

“Eh, hari gini siapa yang nggak baca kolom ini sih kak ? Dari anak SMA sampai bu menteri juga baca. Lihat, meskipun baru tayang sejam, sudah dibaca ..eeh…6010 kali ? Wow..hitsnya nambah terus dengan cepat ” sahut Emma sambil melirik ke Dini.

Dito tertawa. “Emang kalian percaya dengan yang dia tulis ? Akun anonim begitu”. Kuping Dini terasa panas meskipun tetap berusaha menahan diri.

“Kak Dito, di dunia maya ini siapa sih yang tidak jadi anonim ? Foto ? Comot. Data ? Comot. Tulisan ? Copas. Qiqiqiqi… Jangan lihat anonimnya kak, tapi baca isinya saja” sergah Emma

“Iya, maksud kakak, kalian percaya dengan yang dia tulis ?”

“Bagaimana menurut kakak ?” Emma bertanya balik.

“Hmm…kakak nggak terlalu tertarik sih baca begituan. Tapi menurut kakak, sekilas, penulis ini, adalah tipe orang yang sama sekali hijau dalam bercinta. Malah mungkin dia sama sekali belum pernah pacaran”

Emma tertawa ngakak keras sekali.

“Kenapa kak Dito menyimpulkan seperti itu ?”, Dini tiba-tiba angkat bicara.

“Jelas sekali. Dia hanya melihat sebuah pernikahan itu sebagai hitam dan putih, bertahan atau bercerai, cocok atau tidak. Padahal yang namanya pernikahan itu multi warna, kompleks, ada hitam, putih, abu-abu, dsb. Tidak bisa kita mengedepankan logika semata atau perasaan semata”, tutur Dito.

Sekarang Edwin dan Emma tertawa ngakak bareng, saling berpandangan, lalu tertawa lagi.

“Lho kenapa tertawa ?” Dini nampak bingung.

Edwin menukas,” Iya Din, karena Dito ini cuma pinter omong kosong, dia ini jones, alias jomblo ngenes, belum pernah pacaran lagi sejak diputus pacarnya di SMA! Dia cuma bisa berteori. Ya nggak mblo ?” Edwin menepuk-nepuk bahu Dito dan memasang mimik muka kasihan.

Dito tersenyum kecut. “Ah sudahlah, nggak penting itu, kita omongkan yang lain saja”. Percakapanpun beralih topik. Tetap seru dan menyenangkan. Karena mereka berempat ternyata pintar mencari bahan obrolan.

——————–

“Din, bagaimana menurutmu kak Dito ? Ganteng banget ya sekarang. Dulu cungkring dan iteeem. Tapi sekarang…hmmm…Brad Pitt lewaaat. Eh…aku ada ide!” Emma menjentikkan jari. “Mau nggak pacaran sama dia ? ” tanya Emma tiba-tiba. Dini tersenyum. Dia mengakui Dito memang ganteng, good manner, pinter ngobrol, terpelajar dan karier bagus. Persis gambaran lelaki yang dia idamkan selama ini. Meskipun ada juga kesan sombong dan sok tahu di awal perkenalan.

“Cengar-cengir melulu, bagaimana, mau nggak pacaran dengannya ? Kucomblangi deh. Mumpung kalian sama-sama nganggur” desak Emma.

Sampai mereka berpisah ke kantor masing-masing, Dini tidak menjawab. Sembari duduk di kursinya, Dini memandangi foto di ponsel. Tadi di kedai mereka sempat selfie berempat.

“Kak Dito mengingatkan aku pada mas Bayu. Senyumnya, perawakannya, tertawanya,mirip sekali” Dini menghela nafas. Mas Bayu, lelaki yang pernah sangat dicintainya tapi kemudian menjadi sangat dia benci karena mencampakkannya begitu saja. Sejak itu, Dini sulit untuk memulai hubungan baru. Tapi berjumpa dengan Dito tadi, getaran perasaan yang aneh tiba-tiba muncul

Ah tidak Dini, ayo saatnya fokus kerja. Banyak komentator yang menunggu balasanmu. Ayo jangan buang waktu untuk urusan cinta gombal. Dini mengetuk kepalanya. Dan siap menulis kembali di laptop.

Dear “Reasonable Hater”

Terimakasih sudah membaca artikel pendek saya. Saya tahu, sekalipun komentar anda pedas, tapi anda adalah pembaca setia saya. Jika anda tidak setuju dengan perceraian sebagai solusi dalam kebuntuan pernikahan, maka mungkin itu karena anda sebenarnya tidak mau menerima fakta jujur. Jadi saran saya hanya satu, bersikaplah jujur. Salam, Venus

———————————————–

“Sepakat, saya setuju dengan Venus. Tidak seharusnya kita memelihara drama. Untuk apa ? Pernikahan itu bukan seperti etalase. Venusian, Edwin”

“Hooi…saya tidak setuju. Kita hendaknya melihat sebuah lembaga perkawinan sebagai sesuatu yang sangat berharga. Kita harus mau berkorban untuk mempertahankan rumah tangga. Support Reasonable Hater, Emma”

Haah ? ada kak Edwin dan Emma juga ? Dini terbelalak. Dua orang yang dia kenal ikutan jadi komentator dan saling berseberangan. Bagaimana dengan kak Dito ? Dini memeriksa dengan teliti semua komentar yang masuk. Tidak ada nama Dito. Rupanya dia berkata jujur, tidak tertarik dengan tulisan semacam ini. Dini merasa sedikit kecewa. Meskipun dia paham betul, rata-rata Venusians adalah perempuan.

Ponselnya berdering. Emma !

“Din,siap-siap ya, makan malam di Harvest, Jumat sore jam 7, kujemput ya, ada kak Dito dan kak Edwin juga” Klik. Belum sempat Dini bicara, telpon sudah ditutup. Rupanya Emma serius sekali mau jadi mak comblang, tanpa membuang waktu, sekaligus tanpa meminta persetujuannya. Dini merasa sedikit kesal sekaligus senang.

Di seberang sana, Emma sedang berbincang dengan Dito dan Edwin.

“Pokoknya kakak percaya deh sama Emma, Dini itu wanita supeer”, kata Emma pada Dito. Edwin tertawa geli. Akhirnya setelah sekian lama sendiri, mau juga Dito berkencan. Berkat bujukan Emma dan Edwin.

——————-

Jelang tengah malam, Dini nyaris tak bisa tidur. Perasaan cemas, senang bercampur aduk. Akhirnya….setelah sekian lama, tiba juga kesempatan berkencan. Dini sudah lupa bagaimana rasanya berpacaran.

Apa yg harus kusiapkan ? Baju ? Model apa ? Warna ? No..no..no…tema dulu. Aku harus tentukan tema sportif, romantis, modern, casual ? Baru semuanya mengikuti. Sambil tetap sibuk mengetik balasan untuk para pembacanya, Dini mondar mandir dari lemari pakaian ke cermin dan sebaliknya. Memantas-mantas baju, tas, sepatu, berkali-kali. Sampai akhirnya dia jatuh tertidur lelap dalam kondisi kamar berantakan.

Bling bling ! Nada notifikasi laptop membangunkan Dini. Sambil masih setengah terkantuk, Dini menghampiri laptopnya. Komentar baru.

Dear Venus

Aku membenci pikiran salahmu, nothing personal. Kenapa ? Karena itu bisa meracuni para pembacamu. Kalau itu kau tulis di ruang pribadi, aku bakalan masa bodoh.Tapi karena itu kau tulis di ruang publik, aku punya tanggung jawab untuk meluruskan. Kau nggak mikir apa, berapa orang yang terpengaruhi oleh tulisanmu dan akhirnya mengambil keputusan yang salah ? Berapa keluarga yg bakal jadi korban ? Damn. – R H –

Hello Reasonable Hater

Terima kasih sudah bersusah payah mengirim komentar pagi-pagi. Kenapa saya harus bertanggungjawab pada keputusan yang diambil para pembaca? Mereka orang-orang yang sudah dewasa, yang berhak mengambil keputusannya sendiri dan tentu bisa dipertanggungjawabkan sendiri juga. Jika semua penulis harus bertanggungjawab pada pikiran pembaca, maka tidak akan ada orang yang mau menulis bukan ? Salam manis, Venus

Dini menghela nafas. Baru juga bangun tidur sudah diganggu orang. Dini buru-buru mandi dan bersiap ke kantor. Sambil mengunyah setangkup roti tawar selai kacang, Dini menyempatkan membuka lagi laptopnya.

Dear Venus & Reasonable Hater,

Senang sebenarnya mengikuti perdebatan panjang kalian selama hampir setahun ini. Saya harus akui, kalian berdua sering memberi pencerahan meskipun saling bertentangan. Tapi kurasa akan lebih bermanfaat lagi jika kalian mengadakan pertemuan dengan kami, para pembac, semacam kopdar. Kalian bisa berdebat secara langsung dan kami pun bisa bertukarpikiran secara langsung. Jika kalian mau, saya akan sediakan tempat dan segala keperluannya. Bagaimana ? Your big fan -Esther.

Dini terbelalak. Pertemuan dengan para pembaca dan….musuhnya ? Bagaimana ini ? Tidak mungkin ! Selama ini dia sukses menjaga image di dunia maya sebagai pakar cinta. Apa jadinya jika orang akhirnya tahu, sang pakar ini tidak lebih dari jomblo ? Ya, jomblo yang terjebak dalam kubangan buku dan pikiran para pakar ilmu percintaan, lantas merasa cukup ilmu untuk mendaulat diri sendiri jadi ahli ? Hanya karena dia menemukan akses publikasi tulisan ? No way. No way. Dini menggigil membayangkannya. Ia merasa seperti akan ditelanjangi di depan publik.

Di kantor
“Sudah 3 tahun Din…sudah lama dirimu jadi anonim. Mungkin inilah saatnya bagimu untuk tampil. Agar para penggemarmu bisa mengenalmu lebih dekat” mbak Hera nampak tersenyum senang membaca usul Ester.

“Kau punya bekal cukup. Cantik, gelar sarjana dari universitas ternama. You will be a new star, dear. Menariknya lagi, kau akan bertemu dengan rivalmu. Hehehe. Pembaca akan menyaksikan langsung perdebatan kalian, miss Venus vs mr. Reasonable Hater. Bagaimana ?”

Dini tidak menjawab. Dia meninggalkan ruangan mbak Hera dan memilih pergi ke kantin. Kantin kantor mereka ada di rooftop, terbuka, dengan tenda-tenda payung berwarna hijau. Mirip cendawan. Dini duduk menyendiri, menghirup segelas es jeruk. Ia suka berlama-lama di situ jika sedang memikirkan sesuatu. Sejam kemudian Dini kembali ke ruangannya.

Dear Ester,

Idemu sangat bagus. Saya juga sudah sangat lama ingin bertemu dengan para pembaca, Venusians ku. Dan tentu saja dengan Reasonable Hater. Tapi biarlah semua detail acara diurus oleh kantor. Undangan akan segera saya umumkan. Perkiraan saya bulan depan. Kalian semua saya nantikan dengan sangat. Anggap ini balasan atas kebaikan Venusians. Salam, Venus.

Baiklah, mungkin memang ini saatnya aku muncul di publik. No more Venus, no more anonim. Hanya ada Dini. Siapa takut ?

The Harvest
Dini, Emma, Dito dan Edwin tengah menikmati makan malam mereka, sambil mendengarkan alunan live music. Suasananya begitu mengasyikkan. Emma dan Edwin larut dalam suasana, mereka bahkan ikut ngedance di depan bersama beberapa pasang pengunjung lain.

“Dini nggak ingin seperti mereka ? “ Dito menunjuk ke dance floor. Dini menggeleng.

“Dini nggak seperti Emma kak, yang sangat spontan dan pemberani “ Dini tersenyum malu.

“Ah sama. Kak Dito juga beda dengan kak Edwin yang memang senang ngedance”

“Apa kegemaran kak Dito kalau begitu ?”

“Memasak dan jalan-jalan”

“Travelling ? “

“Bukan, jalan kaki, semacam hiking, menyusuri berbagai jalan di berbagai kota. Setiap ada kesempatan, maka kakak akan mengenakan sepatu sport dan berjalan kaki. Sambil memotret jika ketemu spot yang bagus. Lihat apa yang kak Dito potret minggu lalu” Dito menunjukkan galeri foto di ponselnya.

Mata Dini sedikit terbelalak. “Ah, ini kan bantaran sungai di Semarang. Dini pernah ke sini kak”

“Betul, kakak berjalan dari ujung ke ujung menyusuri bantarannya. Indah kan ? Bagaimana denganmu, apa kesukaanmu Din ?”

“Mirip kak Dito. Memotret dan jalan-jalan. Dini nggak suka masak. Tapi obyek fotoku khusus orang kak. Orang di jalan. Lihat…“ Dini membuka tasnya dan menunjukkan kamera yang dia bawa. Sejurus kemudian mereka asyik ngobrol, menunjukkan koleksi foto masing-masing dan menceritakan pengalaman menyusuri jalanan. Bagaikan teman lama.

Usai pertemuan malam itu, Dini dan Dito jadi sering janjian ketemu. Nonton bareng, berjalan jalan dan wisata kuliner di berbagai tempat.

“Apa kabar Venus, sang Dewi Cinta ? “ Emma muncul menggodanya suatu hari. Dini tersenyum malu. Ia harus mengakui bahwa dirinya sedang sangat jatuh cinta pada Dito.

“Terimakasih Emma. Berkatmu aku bisa bertemu dengan kak Dito”

“Apa kubilang ? Kak Dito pasti cocok buatmu. Hobby kalian sama, kepribadian kalianpun mirip. Kak Dito juga nampaknya tergila-gila padamu. Aku bosan setiap hari terima telpon dirinya, menanyakan hal-hal remeh tentangmu.”

“Semula kupikir dia pria yang tinggi hati. Kau tahu kan bagaimana kelakuan para pria yang sudah sukses di usia muda ? Seolah semua bisa mereka beli dengan uang, menyebalkan”

“Ternyata kau salah kan ? Ya setidaknya kak Dito tidak begitu. Dia tetap sosok yang waras dan menginjak bumi. Qiqiqiqi” Emma terkikik.

“Cinta Itu Irrasional”

Selama ini mungkin kalian melihat saya sebagai sosok yang berusaha selalu logis, menempatkan logika di atas segala-galanya. Dalam memberikan saran, saya juga selalu mengutamakan untung rugi dan mendorong kalian untuk berpijak pada data. Itu karena saya ada di pihak kalian, dan ingin melihat kalian bahagia.
Namun tulisan kali ini beda. Ini mungkin seperti sebuah koreksi secara garis besar. Satu hal penting yang selama ini ternyata saya lupakan, cinta itu sendiri. Cinta ternyata adalah sebuah emosi indah yang kadang bisa mengingkari logika, irrasional. Sulit dikalkulasikan. Aku tidak bermaksud berbalik arah. Tapi aku ingin memberitahu kalian, bahwa kita harus menyediakan juga tempat di ruang hati kita, untuk sisi emosional hubungan cinta. Kunantikan kehadiran kalian 2 hari lagi, baca undangan.

Salam, Venus

 

Dear Venus si Kepala Batu

Akhirnya, kau akui juga bahwa pandanganmu adalah salah. Selamat, menyadari bahwa cinta bukan sekedar logika, setidaknya itu satu langkah kecil untuk maju. Masih banyak pemikiran salahmu yang belum kau pahami. Salam, RH

Dear Reasonable Hater,

Jangan berdebat panjang lebar lagi di sini. Kita ketemu besok di Kedai Jawa jam 4 sore. Kita bertemu dan berdebat…eh bertukar pikiran di sana. Okey ? Salam Venus

Venus vs Reasonable Hater
Tak seperti biasanya, kali ini Kedai Jawa telah penuh dengan pengunjung. Sementara di luar masih banyak orang berdatangan. Sebagian besar adalah perempuan, dari berbagai usia. Mbak Hera tampil rapi dan chic, nampak sibuk mondar mandir mengatur ini itu. Di depan Kedai nampak berbagai standing banner dan karangan bunga cantik bertuliskan “Jumpa Penggemar Venus vs Reasonable Hater, Diskusi dan Debat”. Beberapa pengunjung nampak membawa buket bunga tangan dan bingkisan cantik, untuk diberikan kepada Venus atau Reasonable Hater. Tiga tahun waktu yang cukup untuk menghimpun jumlah penggemar yang banyak.

“….terimakasih sudah 3 th menjadi pembaca setia kolom Venus. Selama ini kalian hanya mengenal tulisannya melalui situs kami. Sekarang saatnya bagi kalian semua untuk bertatap muka dengan sosok nyata Venus ! “, mbak Hera membuka acara dengan cukup singkat. Tepuk tangan gemuruh terdengar.

Dengan langkah anggun dan senyum menawan, Dini melangkah masuk ke panggung. Dia nampak sangat cantik bagai bidadari dalam balutan gaun hitam dan perak. Pengunjung terus menerus memberi applause.

“Terimakasih atas kedatangan, sahabat-sahabatku semua. Perkenalkan, sayalah penulis asli Venus, Werdini Kusumastuti atau panggil saja Dini”. Tepuk tangan kembali menggema memekakkan telinga.

“Mungkin kalian semua tahu, bahwa akan hadir juga rival bebuyutan saya, RH, Reasonable Hater, kritikus berat saya. Hai RH, jika kamu sudah datang, silakan maju dan naik ke panggung. Penggemar kita berdua sudah menunggu. Hello RH….di mana kamu ? ”. Hingga berkali-kali panggilan diberikan, tak seorangpun yang maju dan naik ke panggung. Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk. Nampak di layar lcd yang tersambung dengan laptop Dini.

Dear Venus,

Selamat atas jumpa penggemarmu yang sukses. Semula aku ingin hadir di situ. Tapi ku batalkan niatku. Aku memutuskan tetap menjadi anonim, karena aku bukan orang yang bisa tergoda ingin populer sehingga membuka jati diri. Ini komen terakhirku. Aku nggak tertarik lagi memberi komen pada akun anonim palsu sepertimu. Reasonable Hater – Anonim

Bahkan di komentar terakhirnya pun, RH tetap sinis. Pengunjung sempat riuh. Sebagian merasa kecewa, karena apapun setahun ini RH menjadikan kolom itu makin menarik dan mereka menantikan kehadirannya. Untunglah pada akhirnya, acara tetap berlangsung meriah. Dini tak pernah melepas senyum. Baginya hari itu dia serasa ada di puncak kehidupan. Memiliki cinta dari begitu banyak fans dan memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai dan mencintainya.

Sementara itu, di luar kedai, nampak sesosok laki-laki yang sedari tadi berdiri saja di pintu kedai, tidak kebagian tempat di dalam. Ia kemudian berbalik dan berjalan masuk ke coffee shop di seberang kedai. Ia memilih duduk di balik jendela kaca, sambil terus memandang ke arah Kedai Jawa.

Sambil meneguk kopinya perlahan, lelaki itu mengeluarkan ponselnya. Setelah nampak lama berpikir keras, dia mengetik dan mengirimkan pesan kepada seseorang.

“Dini, maafkan kak Dito. Kak Dito merasa hubungan kita tidak akan pernah bisa berlanjut, banyak perbedaan di antara kita. Maafkan kakak. Semoga Dini bisa memperoleh laki-laki lain yang lebih baik dari kakak. Maaf Din”.

Dito mengusap air matanya. Berat baginya untuk mengakhiri hubungan dengan Dini, gadis yang sungguh membuatnya mabuk kepayang sebulan ini. Senyum manis Dini dan penampilan memukaunya di panggung terus terbayang.

Tapi Dito sadar, ada awal yang salah pada hubungan mereka. Dito takut ketidakjujurannya akan berujung pada kesalahan yang lebih besar lagi. “Maafkan aku Din, aku tidak pernah tahu kaulah Venus. Pemikiranmu selama ini sangat bertolak belakang denganku, si Reasonable Hater. ” kata Dito dalam hati.

Pandangannya terus terarah ke Kedai Jawa di seberang. Perlahan hujan turun, memburamkan pandangan, karena kaca jendela yang basah oleh titik titik air hujan. Alam seperti berduka, karena kedua anak manusia yang senantiasa membuat dinding pemisah sebagai para anonim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s