The White Lies

you-are-what-you-eat-58bc1adbcb23bd8910b2418d

Langit teramat kelam
Mendung menggantung tebal
Sinar mentari tak mampu menembusnya
Air jatuh dan tanahpun basah
Sesekali terdengar suara cangkul beradu
Menutup pembaringan akhirmu
Doa dan isak tangis lirih terus terdengar
Kuntum-kuntum bunga putih ditebar menutup pusara
Lalu satu satu kaki melangkah pergi
Menapaki jalan berbatu dan berlumpur
Meninggalkan dirimu terbaring sendiri
Di bawah sana dalam gelap dan sunyi

Berawal dari sebuah percakapan

Jam 1 dini hari, Ratri sudah bersiap tidur. Badan letihnya sulit diajak kompromi. Ponsel bergetar kencang. Ah siapa lagi ini, pikirnya. Dia menyambar telpon, melihat ke layar hp dan bergegas ke ruang tengah.

“Aku hanya ingin mendengar suaramu dan sedikit ngobrol ” suara mas Bisma di seberang.
“Sudah malam sekali di sini, aku capek sekali, apa tidak bisa besok pagi ?” Ratri menjawab.
“Kamu sudah mengantuk ? Aku baru saja terbangun. Kalau begitu nanti saja” nada kecewa terdengar
“Ah tidak, tidak apa-apa,” tukas Ratri cepat, ia berubah pikiran. Selalu begitu, selalu tidak tega dan mengalah.
“Sungguh ? Sebentar saja”
“Ya, kenapa ? “
“Arin…dia tidak mengangkat telponku. Sejak dua hari lalu”
“Jadi?”
“Bisakah kau menengok dia ? Aku khawatir terjadi apa-apa pada dirinya”
“Baiklah…besok kuluangkan waktu menengoknya”
“Terimakasih Ratri”

Percakapan tidak selesai. Tapi terus berlangsung. Bincang ringan tentang berbagai hal. Sesekali diselingi tawa. Saat jarum jam hendak beranjak ke angka dua barulah merekapun sepakat menutup telpon.

—————————————

Azan subuh sayup terdengar. Kicau burung liar ramai terdengar. Sesekali ditimpali gonggongan anjing sebelah rumah. Ratri sudah berada di meja makan. Ia bisa tidur larut tetapi tetap bangun sebelum matahari terbit.
Ratri mengaduk cangkir kopi paginya. Kopi hitam, tanpa gula seperti biasa. Baru kemarin dua pack kopi Sidikalang didapat sebagai oleh-oleh dari kliennya. “Berhentilah Ratri, berhenti terima telponnya. Sampai kapan kau akan terus begini ?” bisik suara hatinya.
“Mas Bisma hanya memanfaatkanmu, dia selalu memintamu ini dan itu. Tapi tidak sekalipun nampak memikirkan perasaanmu. Sudahlah, urus sendiri kehidupanmu Ratri…”
“Lihat, bahkan sekarang mas Bisma mulai menyeretmu masuk ke hubungan pribadi dia dan Arin. Kamu tidak boleh menempatkan dirimu di antara mereka. Tidak boleh” suara itu terus terngiang di benaknya.
Ratri mematung dalam risau. Pertalian hubungan mereka berdua memang seperti tidak pernah bisa berhenti. Selalu saja ada hal yang membuat Ratri dan mas Bisma harus berkomunikasi. Takdir ? Setia kawan ? Atau cinta ? Ratri bergidik. Tidak, ia tidak berani jujur membaca perasaannya.
“Tapi….kali ini apa yang harus kukatakan pada mas Bisma ?” batin Ratri.

————————————————–

Keesokan malam Ratri berinisiatif menelpon mas Bisma terlebih dahulu
“Kapan kamu pulang ke Indonesia mas ?”
“Sebulan lagi ijasahku keluar. Profesorku terus berusaha menahanku. Dasar Korea brengsek. Satu literatur diberi dia minta dua, dua diberi dia minta tiga. Aku seperti kerja rodi untuknya. Tapi minggu lalu kami akhirnya sepakat, bulan depan semua urusan bisa selesai. Kenapa ? Oh ya…sore tadi Arin sudah menghubungiku. Kutanya apa dia bertemu denganmu. Dan dia jawab ya bertemu. Arin cerita kalian makan bersama di Pakuwon kan ? ”

Ratri terdiam. Tenggorokannya terasa tercekat. Dia belum bertemu Arin, kenapa Arin harus berbohong ?

“Ya,..eh..ya kami ketemu. Cuma sebentar karena aku ada rapat tadi” Ratri terbata-bata.
“Kau tidak apa-apa Ratri ? Kamu hendak cerita itu kan ?”
“Tidak…tidak apa-apa, aku hanya sedikit radang tenggorokan, kadang untuk berbicara terasa sakit”
“Kau harus ke dokter Ratri, atau minumlah Cefadroxil dulu. Jangan tunggu parah, jangan membuatku selalu khawatir…”

Ah mas Bisma…kenapa harus bicara seperti itu. Tidak bisakah kamu bersikap acuh padaku, agar perasaanku tidak makin terhanyut ? Ratri menghela nafas.

“Thanks mas Bisma…iya aku akan segera ke dokter. Soal Arin…”
“Thanks juga ya Ratri, aku sudah sering sekali merepotkanmu. Nanti pulang aku harus memberimu oleh-oleh apa ?”
“Apa sajalah…asal bukan kaos Kyung Hee yang jelek itu”
“Hahaha…maaf, aku bokek saat itu. Hanya mampu belikanmu itu. Hmm…bagaimana jika sepatu boot, warna merah ? Keren kan ?”
“Kenapa merah ? Norak ah. Aku lebih suka putih”
“Aku tidak suka putih. Itu warna kematian. Kalau aku mati, jangan taburi makamku dengan bunga putih.”
“Ngomong apa sih mas ?”
“Merah adalah warna kehidupan, gairah hidup. Ah kamu, sebagai perempuan masak begitu saja tidak tahu ? Kemarin profesor Myung berjalan di kampus memakai boot merah. Seharusnya aku memotret dan menunjukkannya padamu…modis banget. “
“Tapi itu kan untukku, kenapa harus menuruti warna kesukaanmu ? “
“Karena kamu adalah wanitaku, Ratri. Sepanjang hidupku hanya ada dua wanita di hatiku, kamu dan mama”

Ratri tertegun. Begitulah mas Bisma. Selalu melambungkan perasaan Ratri dengan segala sikap manisnya membuat ia makin sulit bersikap.

“Jangan begitu mas Bisma…ada Arin”
“Arin itu cintaku. Tapi wanitaku tetap mama dan kamu”, jawab mas Bisma. Ratri tercenung, apa maksudmu mas Bisma, kau seperti mengombang ambingkan hatiku.
“Ratri, kalau Arin tidak hadir di kehidupanku, mungkin kamulah yang paling pas ada di posisinya. Betul kan ?”

Ratri diam. Mas Bisma, pertanyaanmu itu sangat menyakitiku. Tidak adakah kalimat lain yang bisa kau sampaikan ? Ratri menarik nafas. Aku harus bersabar. Mas Bisma tidak salah, kami memang sangat dekat, meskipun bukan siapa-siapa. Ratri kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal lain.

——————————–

“Ratri…duduklah. Arin menyambutku dengan senyum lebar. Sore itu mereka bertemu di sebuah kafe. Di meja sudah tersaji dua cangkir coklat.
“Ratri…bisakah kau menolongku ?”
“Tolong apa ?”
“Tidak usah berpura-pura. Kau melihatku kemarin dengan Wayan bukan ?

Ratri menatap tajam Arin. Arin tampak tenang dan tetap tersenyum. Bagaimana bisa ? Ratri mengernyitkan dahi heran. Ratri tidak bicara apapun. Hening.

“Aku melihat mobilmu, parkir tak jauh dari mobilku” Arin melanjutkan

Ratri diam. Tak pernah ia duga Arin juga melihatnya.
Ya, secara tak sengaja, kemarin Ratri melihat dengan mata kepala sendiri Arin bergandengan tangan mesra dengan Wayan, boss Ratri, masuk ke mobil dan berciuman di dalamnya. Ratri tak sengaja sedang memarkir mobil di dekatnya. Semula dia datang karena hendak mengajak Arin makan siang bareng. Mungkin itu pula sebabnya telpon dari mas Bisma tidak diangkat. Ratri tahu Mas Bisma sangat mencintai Arin. Ia tidak tahu harus bicara bagaimana pada Mas Bisma.

“Ratri, bisakah kau menyimpan hal ini dari mas Bisma ?” kata Arin memecah kesunyian
“Apa?” Ratri tidak percaya dengan yang sudah didengarnya.
“Kau tahu, bulan depan mas Bisma akan pulang, kemudian kami akan menikah. Aku tidak mau dia tahu apa yg kulakukan” nada bicara Arin sangat tenang, seolah dia sedang membicarakan orang lain. Sambil mengaduk pelan cangkir coklatnya dengan sendok.

Bagaimana bisa kau setenang itu Arin, hati Ratri bertanya-tanya.

“Aku akan tutup mulut dengan satu syarat. Jangan kau lakukan lagi. Mas Bisma tidak pantas kau khianati seperti itu”
“Itu tidak mungkin” Arin menyandarkan diri ke kursi, menatap Ratri lekat-lekat. Ratri terhenyak.
“Tidak mungkin ?” Ratri kaget. Hatinya mulai panas. Wajahnya merona merah pertanda marah.
“Ratri…hubunganku dengan Wayan sudah terlampau jauh. Aku nggak bisa mengakhiri begitu saja”
“Sejak kapan ….”
“Seminggu setelah mas Bisma berangkat study” Arin bicara blak-blakan.
“Itu….itu…hampir 3 tahun lalu ? Terlalu kau Arin! Terlalu…” Ratri menyandarkan punggungnya lesu. Kasihan mas Bisma, suara Ratri dalam hati.

“Bukan salahku sepenuhnya Ratri. Mas Bisma terus menunda pernikahan kami. Dulu dia berjanji menikahiku setelah lulus S1. Lalu mundur setelah bekerja. Kemudian dia mengambil S2. Aku tidak menentang dia untuk berkarir, tapi aku juga tidak bisa terus sendirian”
“Tiga tahun ini mas Bisma berusaha 3x pulang. Kau tahu tiket pesawat mahal, dia sudah berusaha semampunya. Setiap saat dia juga selalu menghubungimu, telpon, whatsapp. Kau tdk jujur Arin, kau hanya cari-cari alasan” Ratri benar-benar marah tapi tetap berusaha nampak tenang.
Arin terdiam. Dia menatap ke langit-langit kafe. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

“Kalau kau memilih Wayan, kenapa kau tidak bicara saja pada mas Bisma. Kalian bisa putus baik-baik. ” kata Ratri.
“Aku tidak bilang akan memilih Wayan. Kau kan tahu Wayan sudah beristri.”
Ratri terkejut. Sikap apa ini ? Pragmatisme. Atau justru cerdas ? Apa yang kau cari Arin ? Uang ? Cinta ? Atau apa ? Entahlah…aku seperti tidak mengenalmu lagi.
“Jadi apa maumu ? Pacaran dengan Wayan, tapi menikah dengan mas Bisma ?”
Arin tertawa kecil.
“Tentu tidak. Pada saatnya nanti aku tetap harus memilih”

Ratri menggeleng-gelengkan kepala. Dia bukan orang konservatif. Dia hidup di lingkungan orang-orang yang memiliki berbagai “norma jungkir balik” dalam hidup mereka. Tapi Arin dan mas Bisma bukan orang lain baginya, Ratri tidak bisa bersikap acuh.

“Dengar, aku tidak mau menjadi tameng dari kelakuanmu. Kalau kau tidak putus dengan Wayan, aku akan ceritakan pada mas Bisma”
“Ratri…jangan…please…” Arin menatapnya. Ratri menganalisa ekspresinya sekilas. Tidak, itu bukan memohon, tapi seperti menyuruh.
“Masih ada waktu sebulan sebelum mas Bisma pulang” Ratri berdiri hendak beranjak.
“Baiklah kalau itu maumu. Kuharap kau bisa bersiap untuk mencari pekerjaan baru” Arin berdiri , melangkah mendekati Ratri
“An eye for an eye…? “ Arin membisikkan kata kata itu tepat di telinga Ratri, tersenyum lalu berjalan pergi

Ratri mematung. Arin mengancamnya. Arin tahu sekali Wayan sangat menentukan nasib karier Ratri. Karier yang sudah dirintisnya dengan susah payah dan memakan waktu bertahun-tahun. Apa yang harus kulakukan….pikiran Ratri buntu

——————————–

Sebulan kemudian…

“Kita hendak makan di sini ? “ Ratri bertanya. Mas Bisma hanya tersenyum. Ia memarkir mobilnya di halaman sebuah restaurant mewah. Berderet mobil mahal terparkir rapi.
“Kamu ingat, aku pernah berjanji mentraktirmu di restaurant mahal sebelum aku menikah ? Sekarang aku sudah kembali. Dan hari ini kurasa waktu yang pas untuk menunaikan janjiku”
“Mas Bisma…kau tidak perlu melakukan itu. Simpan uangmu untuk bulan madumu nanti” ada rasa perih saat Ratri mengucapkannya. Mas Bisma, jangan menikahinya….jangan…dia bukan wanita baik…suara hati Ratri berkata lain.
“Kenapa ? Kau nampak tidak senang ? “
“Mas Bisma…apa…apa kau tetap akan menikahi Arin ?” Ratri menutup mulutnya dengan tangan. Kalimat itu begitu saja keluar dari mulutnya.
“Kenapa ? Kau cemburu ? Naaaah…aku tahu sekarang, kamu pasti cemburu kan ? Hahaha” Mas Bisma tertawa terkekeh
“Mas Bisma….” kalimat Ratri terputus karena Bisma meletakkan telunjuknya ke bibir Ratri, kode agar diam.
“Ratri, meskipun aku menikahi Arin, kau tetaplah wanitaku, kau tetap mengisi hatiku. Bagiku…kau tetaplah…”

Apa Mas Bisma ? Katakan, apa aku ini bagimu ? Jangan mengumbar kata-kata yang kau tidak mengerti konsekuensinya. Protes Ratri dalam hati.

“Kau tetap adikku, wanita favoritku” mas Bisma mengelus pipi Ratri. Senyumnya lebar.
“Ayo cepat kita masuk, kita tidak boleh telat, waiting list di restaurant ini panjang lho…”, mas Bisma membuka pintu mobil dan berjalan.

Dengan enggan Ratri mengikutinya. Ia berjalan menunduk, menutupi hatinya yang pilu. Hasrat makannya sama sekali tidak ada. Akhirnya ia tahu, bagaimana perasaan mas Bisma. Meskipun ia sudah lama menduga tapi tetap saja rasa sedih menghimpit dada. Ratri menatap ke depan. Ia bisa melihat punggung lelaki yang dikasihinya itu berjalan sedikit tergesa.

Dari kejauhan, nampak sebuah mobil berwarna hitam berjalan kencang, seperti terburu-buru mencari ruang parkir dan….

Braaaaak !! Ciiiit ! Suara benturan keras dan rem berdecit decit memekakkan telinga.

Mobil menabrak tubuh Bisma hingga terpental. Bisma jatuh berguling-guling, tergeletak di aspal tak sadarkan diri. Kejadian secepat kilat. Jeritan para saksi mata membuat Ratri terkejut. Ia ternganga, jantungnya serasa lepas. Ia menjerit dan berlari menghampiri. Tubuh Bisma sudah berlumur darah, dikerumuni oleh para pengunjung yang panik. Para security sibuk menelpon ambulance. Seorang pengunjung yang kebetulan dokter berusaha memberi pertolongan pertama. Ratri menangis histeris.

Sopir mobil penabrak diamankan security. Dua orang penumpangnya keluar dengan ekspresi takut dari jok belakang. Ratri menoleh ke arah mereka. Wayan dan Arin ! Mereka nampak shock mengetahui siapa korban tabrakan. Arin menghambur mendekat, ia menjerit dan menangis. Wayan nampak bingung, wajahnya pucat pasi.

Ratri menghampiri Arin dan menghadiahinya dengan dua buah tamparan keras.
“Kalau terjadi apa-apa dengan mas Mas Bisma, aku bersumpah akan membalasmu. Dan juga kau, Wayan ! Aku akan balas kalian !” Ratri menudingkan telunjuknya ke wajah Arin dan Wayan. Arin gemetaran, sorot ketakutan nampak di wajahnya.

Ia menengadah ke langit
Burung-burung gereja terlihat terbang berkoloni
Seperti hendak pulang ke sarang
Ia pun melangkahkan kaki mendekati pusara
Sisa-sisa bunga tabur dulu sudah nampak mengering
Rumput liar nampak tumbuh di sana sini
Ia membungkuk meletakkan rangkaian bunga merah
“Aku tak pernah suka bunga putih, itu warna kematian.
Bagiku kau tak pernah pergi”
Lalu ia taruh mini player dan memutar lagu berirama lembut
“Aku tahu kau tidak suka sendirian”
Ia duduk di bebatuan, sendiri dalam diam
Mengucap rangkaian doa dengan kalimat tersendat
“Beristirahatlah dalam damai”

“Kita pulang mas….”
Lelaki itu mengangguk. Perempuan di sebelahnya menggandeng dengan hati-hati.
Mereka berjalan berdua , meninggalkan makam, menapaki jalan berbatu, dengan pikiran dan perasaan masing-masing. Langkah kaki lelaki itu nampak sedikit terpincang. Tongkat di tangan kanan membantunya.

“Dia terlalu mencintaiku. Andaikan dia lebih tabah, mungkin kisah kami tidak akan berakhir seperti ini. “
“Mas, siapa tidak kaget dan shock melihat kondisi mas yang koma selama sebulan. Tapi …aku juga tidak menyangka serangan jantung itu membuatnya pergi sangat cepat”
“Seharusnya dia tahu, aku tidak semudah itu mati. Kau lihat bagaimana aku bisa pulih dengan cepat ? Aku menyesal sering mengabaikannya“ air mata nampak mengalir di pipi. Buru-buru lelaki itu menghapusnya dengan sapu tangan.
“Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk masa lalu mas”

Lelaki itu menghela nafas panjang. Nampak berusaha sekali menata perasaan.
“Tapi kenapa aku selalu merasa bahwa selama koma, aku selalu hanya melihat dirimu menunggui dan menangisiku, bukan dia.”
“Dia datang mas, menungguimu setiap hari. Hingga habis harapan dan  jantungya tak bisa berkompromi lagi”

Lelaki itu mengangguk.
Akhirnya mereka sampai ke mobil. Mereka tidak langsung pergi melainkan berdiri sambil memandang ke langit yang cerah. Pohon-pohon pinus tua yang tinggi nampak menggugurkan daun dan buah kering kecoklatan. Angin bertiup perlahan. Sepi. Hanya mereka pengunjung makam kali itu.

“Selamat tinggal Arin“ lelaki itu melambaikan tangan perpisahan. Dengan sedikit susah payah dia masuk ke mobil.

“Beristirahatlah dalam damai. Aku terpaksa harus mengarang cerita indah tentangmu, Arin. Aku tidak mau mas Mas Bisma terluka untuk kedua kalinya, meskipun untuk itu aku harus berbohong,“ batin Ratri.

Ia menghela nafas panjang.
“Biarlah mas Bisma tetap mengenangmu sebagai kekasih yang baik. Arin yang meninggal karena serangan jantung akibat memikirkan kekasih yang kecelakaan. Dan bukan Arin yang bunuh diri karena merasa bersalah. Tidak akan pernah ada kisah Arin dan Wayan, hanya ada Arin dan Bisma, Aku rela menanggung dosa kebohongan ini sampai mati,” Ratri berbicara lagi dalam hati.

Tiba-tiba desau angin terdengar. Dedaunan terbang berputar di udara.

Di dalam mobil, setelah sekian lama hening….

“Boot merah itu cantik di kakimu. Tidak salah aku memilihnya untukmu, adikku sayang”, Bisma tersenyum.
Ratri balas tersenyum. “Aku tidak akan pernah mengatakan perasaanku yang sebenarnya sampai kapanpun,  karena kami memang tidak diciptakan untuk berpasangan di dunia. Itulah takdir kami,” Ratri berbicara dalam angan. Kekecewaan mungkin tak akan hilang, tapi hatinya terasa lebih ringan. Ia merasa lega. Setelah sekian lama, kini dia memahami hubungan mereka.

15845526-58bc1e70f39673b508191396

Mobil berjalan perlahan meninggalkan kompleks permakaman. Guguran daun pinus terbang tertiup deru mobil. Kawanan burung pipit berputar putar di atas langit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s