Rumah Sakit Jiwa

img-3767-jpg-58059f815c7b61880c8b456b

Aku setengah berlari menuju kantorku, takut terlambat. Nggak jauh sih. Hanya sekitar 300 m dari rumah. Berlari tidak sampai 10 menit saja sudah sampai. Satpam di gardu gerbang depan menyambutku dengan ramah. “Selamat pagi bu Ajeng.” aku tersenyum dan bergegas ke gedung kantorku. Jaraknya masih 100 an meter dari gerbang. Keringat bercucuran di dahi. Nafas sedikit ngos-ngosan.

Sebenarnya aku selalu bangun sebelum subuh, saat kicau burung pagi pertama terdengar. Kokok ayam pun belum ada, mereka masih terlelap dalam mimpi. (Eh ayam bermimpi nggak sih ?) Tapi rutinitas pagi hari selalu saja membuatku nyaris terlambat. Seperti pagi ini juga…

“Pa, ma berangkat dulu ya!” teriakku berpamitan sebelum pergi. Papa yang sedang membersihkan kandang-kandang burung piaraan di halaman belakang, nampak melambaikan tangan ke arahku. Mama yg sedang di dapur bergegas ke depan. Di tangan kanannya ada tas jinjing kecil berisi bekal makan siangku. “Nggak usahlah ma…kan bisa beli di kantin” . Tapi mama tetap maksa. “Ini masakan mama lebih bersih, lebih sehat. Setidaknya bebas virus penyakit ketimbang beli di sana”. Tukasnya sambil setengah melotot. Aku tak bisa lagi menolak.

“Eh bagaimana usulan tantemu kemarin? Sudah kamu pikirkan ?” tanya mama dengan sorot mata penuh harap.

“Aku belum ada rencana pindah kerja ma”

“Apa lagi sih yg kamu pertimbangkan ? Di tempat baru prospek lebih bagus. Tantemu pemilik klinik itu. Gaji yg ditawarkan juga jauh lebih tinggi. Dan posisimu di situ juga pasti lebih bagus”

“Tapi ma….”

“Dan yg penting itu bukan rumah sakit jiwa seperti yang sekarang ! Apa kamu mau terus2an ngumpul dengan orang2 yg pikirannya tidak waras ??”

“Sudahlah ma…anakmu masih suka kerja di situ ya biarkan saja” teriak papa dari kejauhan masih sambil membersihkan kandang.

“Aku susah payah nyekolahin dia bukan buat ngurusi orang gila pa !” mama mulai meradang.

Papa bergegas datang. Ia memberiku kode agar cepat berangkat. Dan seperti biasa, berikutnya papa lah yang menyediakan diri jadi tameng omelan mama. Masih terdengar sayup sayup teriakan mama,”Kamu belum punya pacar, kalau kerja di situ susah cari jodoh, mau pacaran sama orang gila ??” Ya, itulah rutinitas pagiku.

Mama tidak pernah setuju aku bekerja di RSJ. Sementara aku justru menganggap banyak hal menarik di situ. Sebagai lulusan sarjana manajemen rumah sakit aku tertantang untuk memajukan RSJ yang sudah berusia nyaris seratus tahun ini. Lagipula RSJ ini sudah pula berkembang menjadi penyedia layanan penyakit umum, bukan melulu layanan penyakit jiwa. Meskipun lambat tapi aku yakin ilmuku lebih cocok di sini ketimbang di klinik kecantikan milik tante.

rsj3-5805a0366f7a61d40c8b456a

Tak terasa tinggal beberapa meter lagi aku sampai di kantor. Rindangnya deretan pepohonan berbaris rapi di halaman , seolah ikut menyambutku. Bangunan kuno buatan jaman Belanda berdiri kokoh di hadapanku. Seperti bangunan buatan Belanda, gedung RSJ ini memiliki teras yang teduh, dengan lantai tegel kuno dan jendela-jendela berukuran sangat lebar. Aku sangat menyukainya. Ini juga yang membuatku betah bekerja di sini.
Setiba di ruangan kerjaku, aku meletakkan tas di loker. Setumpuk map sudah ada di meja. Map pertama kuambil, sirkulasi pasien. Kulihat ada tercantum nama pasien yang sudah bisa pulang ke rumahnya. Berarti ambulance dan tim para medis pendamping harus kusiapkan. Ini tugas pak Santoso. Dia penanggungjawab ambulance. Kupencet telp ke ruangnya. Tidak diangkat. Aku baru akan menelpon lagi ketiga kali, ketika kulihat ada sedikit kehebohan di bangsal seberang. Aku berjalan bergegas ke sana didampingi Yuni, asistenku. Bekerja di rumah sakit harus sigap, meskipun bangsal itu bukan tanggungjawabku.

Kulihat Pak Santoso sedang terengah-engah lari cepat melewatiku seperti dikejar sesuatu. “Pak….pak” belum selesai aku memanggilnya…ada suara gedebak gedebuk langkah kaki, seseorang tak kalah cepatnya lari mendatangi.

“Ayamkuuuuu….! Ayamkuuuuuu….!!! ” teriak orang tadi, Pak Binsar, pasien lama kami. Rupanya pak Santoso sedang dikejar-kejar pak Binsar. Aku dan Yuni bengong melihat mereka. Beberapa kali mereka berlari melewatiku.

“Maaf bu Ajeng…tunggu sebentar ya…” teriak pak Santoso lalu dia kembali berlari kencang mengitari lapangan.

“Ayamkuuuuuu…..ayamkuuuu….” pak Binsar berteriak teriak mengejar, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah pak Santoso.

Astaga….

“Sudah berapa lama mereka berkejaran Yun?” tanyaku pada asisten.

“Sekitar 20 menit bu”. Aku menggeleng-gelengkan kepala, lalu memberi kode ke dua perawat laki-laki. Dan mereka dengan sigap menangkap pak Binsar.

“Lepaskan…itu ayamkuuuu” pak Binsar meronta-ronta.

“Pak….pak…coba perhatikan..itu bukan ayam. Itu pak Santoso. Coba perhatikan” bujuk perawat. Pak Santoso sambil terengah-enah menyorongkan wajah ke arah mereka.

Dan sesaat kemudian pak Binsar pun berangsur tenang. Sambil digandeng perawat, dia berjalan kembali ke bangsal.

“Pak Santoso !” aku memperlihatkan wajah tidak senang…

“Maaf bu…maaf…saya cuma ingin olahraga lari pagi. Saya perlu sparring partner agar semangat” dia terkekeh.

Aku tidak menjawab dan hanya memberikan kode ke asistenku. Yuni menjelaskan tugas pagi itu ke pak Santoso dan aku berlalu. Tak kuhiraukan pak Santoso yang masih tertawa-tawa senang. Aku sudah hafal dengan kelakuannya. Menggoda pasien. Pak Binsar yg terkena depresi berat karena peternakan ayamnya bangkrut sering dijadikan sasaran kejahilannya. Bekerja di rumah sakit seperti ini kadang-kadang membuat kami yg semestinya waras ikut-ikutan berlaku gila.

Demi wibawa, di depan mereka aku tetap memasang wajah serius. Tapi begitu sudah agak jauh aku senyum simpul tertawa dalam hati mengingat adegan tadi.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara teriakan orang.

“Merdeka!!” Seorang berpakaian pasien berteriak keras sekali sambil mengepalkan tangan ke udara, berdiri di tengah lapangan. Di depannya duduk puluhan pasien di rerumputan. Mirip adegan orasi.

“Merdeka!!” Riuh suara beberapa pasien menyambutnya. Tepuk tangan menggema. Mereka semua nampak sangat bersemangat.

“Jadi saudara-saudaraku semua…sebangsa dan setanah air…jangan ragu untuk memilih saya. Saya akan berada di baris terdepaaaaan memperjuangkan aspirasi anda semua, as…pi…ra…si. Memperjuangkan apa ???”

“Asiiiiiii” sahut seorang pasien yang jadi pendengar dengan mimik muka serius. Semua wajah menoleh ke arahnya. Tegang. Tapi sejurus kemudian mereka semua bertepuktangan gegap gempita. Kulihat beberapa perawat laki-laki yang mengawasi berusaha keras menahan geli.

“Yuni….” panggilku.

“Anu bu…itu pasien baru…caleg gagal bu” bisiknya. Aku mengangguk lalu berjalan kembali diikuti Yuni.

Di bagian pelayanan jiwa ini tugasku sebenarnya lebih ke manajemen pelayanan, akan tetapi aku juga diwajibkan melakukan supervisi langsung ke lapangan. Jadilah setiap hari aku menggunakan separuh jam kerja untuk berkeliling. Setiap pagi beragam kegiatan para pasien. Ada senam, ada pingpong, futsal dll.

1320533futsal-rsj-magelang-ok780x390-5805a1d9a723bd440e8b4567

Di teras nampak berseliweran pasien-pasien lain. Ada yang menyanyi, duduk bengong atau sekedar tertawa-tawa sendiri. Setiap jumat mereka akan berolahraga jalan pagi bersama, tentu dengan kawalan ketat para perawat. Pasien skizophrenia akut berbahaya tentu saja ada dalam ruangan tersendiri, terpaksa terkurung dalam ruangan berjeruji besi.

Tiba-tiba seorang pemuda berwajah tampan mendekatiku. Melemparkan senyum manisnya. Kulitnya putih bersih, tinggi, berkacamata, gantengnya mirip sekali dengan Lee Min Ho, artis Korea sekaligus model Kopi Luwak itu. Siapapun wanita yang diberi senyuman seperti itu kurasa pasti akan klepek klepek jatuh hati. Tapi itu tidak berlaku untukku.

“Bu A…A…Aj…Ajeng…nas…nas…kah…pu…pu..isi…sa…sa…sa..ya…”

“Sudah jadi ya naskah puisi terbarumu mas Sitok ?” tukasku. Pemuda ganteng ini pasien juga. Bercita2 menjadi penyair namun dipaksa ortu untuk kuliah di teknik mesin sehingga stress berat. Bicaranya gagap, mengurangi kegantengannya. Si “Lee Min Ho” ini hanya mau dipanggil dengan nama mas Sitok. Mungkin Sitok Srengenge adalah idolanya.

“Sa…sa…sa…ya…bac…bac..”

“Saya bacakan puisi baru saya bu” tukas Yuni. Mas Sitok mengangguk senang, seolah membenarkan.

Waduh…matilah saya. Bisa berjam-jam saya tertahan jika harus mendengar dia baca puisi.

“Sini puisinya biar diperiksa bu Ajeng dulu mas…besok dibacakan waktu perayaan 17an” Yuni menyahut cepat. Kertas di tangan mas Sitok berpindah ke tangan Yuni. Kami berdua pergi meninggalkan mas Sitok yg tertawa2 senang.

Waktu sudah agak jauh, kubuka lembaran kertas tadi. ??? Aku terbelalak. Cuma ada tulisan “PUISI” di situ. Yuni cekikikan melihatnya.

“Sayangku…..sayangku….aku begitu setia menungguimu. Sabarlah, sebentar lagi kau akan diperbolehkan pulang. Jangan memikirkan aku…nanti gilamu nggak sembuh-sembuh” seorang wanita cantik berambut panjang mengelus-elus batang pohon pinus di halaman. Itu Sinta, mantan model dan putri bikini 2015, kehilangan kewarasan ketika suaminya menikah lagi. Aku menatap iba. Sebegitu besar tekanan kesedihannya, membuat jiwanya terguncang. Rupanya Sinta sangat mencintai suaminya. Mengherankan, karena wajah si suami jauuuh dari ganteng. Yaah…namanya cinta.

“Bu Ajeng ! Bu Ajeng ! ” seseorang meneriakkan namaku. Seorang pasien lelaki bernama Adi, nampak sedang duduk di depan kanvas lukis, di bawah pohon yang rindang. Ia melambai-lambaikan kuas lukis ke arahku. Aku berjalan menghampirinya.

“Ini bu, karya terbaruku. The Butterfly In Love. Menceritakan tentang seorang pangeran tampan yang jatuh cinta pada titik-titik embun di kelopak bunga dan untuk itu iapun rela menjelma jadi kupu-kupu. Sungguh kisah yang indah bukan ?”

“Wow….luaaaar biasa. Adi memang sangat kreatif, jempol ! Dan ini sungguh karya lukisan yang sangaaaat indah” pujiku membesarkan hatinya, sekalipun di kanvas berukuran 80 x 40 cm itu hanya ada setitik gumpal cat berwarna kuning. Menurut dokter jiwa di rumah sakit ini, menghargai setiap karya pasien adalah upaya positif yg membantu menyembuhkan.

Adi mengernyitkan dahi, melihat ke kanvas lalu ke arahku, ke kanvas lagi lalu ke arahku lagi. Sejurus kemudian dia menepuk-nepuk bahuku lumayan keras sambil tertawa keras.

“Unbelieeeeeveable….amaaaaaazing…bu Ajeng memang seorang visioner. Berpandangan jauuuuh ke depan. Orang Jawa bilang, ngerti sak durunge winarah. Bukan main. Anda sudah bisa melihatnya meskipun saya baru mulai membuat titik pusat perspektif lukisan saya.” dia menepuk-nepuk bahu saya lagi. “Bu Ajeng pasti rajin minum obat seperti saya…amazing” sambungnya kemudian. Saya terbatuk-batuk. Sejurus kemudian saya berpamitan.

Namanya Adi, mantan pelukis hebat yang harus masuk rumah sakit jiwa karena gallerynya musnah dilalap api dalam kebakaran. Lukisan-lukisan ibarat darah dagingnya sendiri. Dia begitu terpukul. Baru bulan lalu dia mulai melukis kembali.

Kudengar suara cekikikan Yuni. ” Apa ? Apa ?” sergahku. Yuni diam. Aku tahu apa yang hendak dia tertawakan. Pasti komen lebayku tadi. Niatnya memuji malah jadi saya yang nampak seperti orang gila.

Jam 12 siang aku kembali ke ruanganku untuk makan siang. Yuni menemaniku makan. Dia membawa rantang cateringnya.

“Yun….aku mungkin akan mengundurkan diri. Tante Mita menyuruhku membantunya. Semalam beliau menelponku lagi. Aku capek berdebat dengan mama” aku berkata lesu.

“Bu Ajeng jangan pergi bu. Bu Ajeng sudah bekerja di sini hampir 5 tahun, SK PNS sudah dalam proses, sayang bu, sayang. Mereka-mereka sebelum bu Ajeng selalu hanya bertahan paling lama 3 bulan. Jangan ya bu…” Yuni berkata memohon. Aku menghela nafas. Yuni sudah seperti adikku sendiri. Di rumah sakit ini karyawan, perawat dan pasien sudah mulai akrab denganku. Aku tidak pernah takut berhadapan dengan orang-orang gila di RSJ ini. Itulah yang membuatku merasa berat. Tapi aku bosan bertengkar dengan mama.

Hati kecilku juga menginginkan perbaikan karier. Kehidupan normal. Teman-temanku semua sudah sukses berkarier. Melihat foto-foto mereka di socmed aku merasa iri. Di antara semuanya mungkin hanya aku yang bekerja di RSJ. Melihat mereka posting foto bersama para kolega aku ngiri. Masak iya aku harus posting foto bersama pasien-pasien gilaku ?

“Tidak usah keluar dulu nak. Bekerja di mana saja itu sama, selalu ada suka dukanya. Jadi serdadu tentara seperti papa kamu pikir tidak membosankan ? Siap komandan ! Siap jenderal ! Itu terus yang harus papa lakukan setiap hari, diperintah ini itu sampai pensiun. Tapi toh papa bisa bertahan dan bisa membiayai kamu dan adikmu kuliah. Atau cuti saja dulu, kau main dulu ke klinik tantemu itu, melihat suasana di sana “ saran papa padaku malam itu.

Aku menuruti nasehat papa. Cuti tahunanku aku ambil untuk mengunjungi klinik kecantikan milik tante Mita. Oleh tante aku diajak berkeliling. Klinik ini tidak terlalu besar tapi cukup lengkap dan sangat mewah. Para pasien yang datang adalah mereka dari kalangan super kaya. Terlihat dari area parkir yang penuh dengan mobil mewah. Aku berdecak kagum. Senang sekali rasanya melihat pasien-pasien dan tamunya, semua berpenampilan layaknya selebritis, cantik-cantik dan ganteng-ganteng.

“Dengan wajah cantikmu, kau pasti bisa menggaet salah satu pasien tampan yang kaya di sini” bisik tante Mita. Aku tergelak. “Dan mereka semua orang-orang waras”, sambung tante. Dibandingkan dengan RSJ tempatku bekerja, aku merasa seperti baru saja terangkat dari masa-masa suram. “Bodohnya aku, kenapa nggak dari dulu saja aku menerima tawaran tante Mita”

“Tante, kalau bekerja di sini, Ajeng akan ditempatkan di mana ?” tanyaku hati-hati. Tante Mita tersenyum sumringah. “Tante menginginkan kamu mempelajari semua bagian, agar kelak Ajeng bisa menjadi tangan kanan tante Mita. Bagaimana ?” Aku menyetujui.

Esok harinya aku ditempatkan di resepsionis sekedar untuk melihat-lihat dulu pekerjaan di situ. Tidak terlalu banyak kejadian menarik sebenarnya. Sampai jam 8 pagi ketika seorang wanita cantik, tinggi langsing, dengan dandanan serba mahal, mendatangi meja resepsionis. Semula hanya terjadi percakapan biasa dengan resepsionis. Tapi ketika dirinya mendapatkan nomer urut di angka puluhan, wanita itu tiba-tiba meradang.

“Kamu tidak tahu siapa saya ? Berani-beraninya menyuruh saya memakai nomer urut ? Saya ini VVIP. Ngerti kamu ? “ bentaknya ke resepsionis.

“Tapi nyonya, semua memang harus memakai nomer urut, agar dokter bisa menangani dengan baik”

“Eh berani ngatur kamu ya ?“ teriaknya meradang. Dia mengangkat telpon dan sejurus kemudian beberapa pria berdatangan. Rupanya si ibu muda ini membawa para ajudan. Akhirnya aku terpaksa ikut campur menengahi sehingga suasana kembali tenang.

“Jangan kaget bu Ajeng. Di sini memang begitu. Banyak pasien kaya yang bertingkah nggak logis. Mungkin karena merasa sudah membayar mahal. Yang tadi itu….sssst…istri pejabat”, bisik salah seorang resepsionis padaku.

Belum lama tenang, suasana heboh lagi. Seorang pasien berteriak histeris ketika tak sengaja bertemu dengan suaminya yang datang mengantar wanita selingkuhannya. Maka terjadilah adegan tampar menampar di antara mereka, persis seperti sinetron, sampai security harus turun tangan.

“Cuma begitu saja kok pakai tampar menampar”, kata seorang wanita cantik yang sedang kulayani mendaftar.

“Mbak ini pegawai baru ya ? “ tanyanya lagi. Aku mengangguk.

“Nggak perlu begitu, tenang saja kenapa. Mau ditampar seperti apa, kalau suka main perempuan ya tetap saja akan diulang. Yang penting uang bulanan lancar. Gitu saja saya sih. Mending senang-senang mempercantik diri”, kata wanita tadi sambil terus mengisi formulir. Entah mengomentari kejadian tadi atau curcol.

Setelah dia berlalu, mbak Esti resepsionis berbisik ke aku,”Itu istri pengacara yang terkenal itu lho mbak…” sambil menyebut sebuah nama ngetop yang terkenal sering pacaran sana sini. Aku manggut-manggut.

“Maaf bu, jadwal ibu kan masih bulan depan. Tidak bisa sekarang”. Aku mendengar mbak Arum, resepsionis yang lain menjelaskan ke seorang ibu bertubuh super subur dengan kulit wajah seperti porselen saking halusnya.

“Tapi saya mau ngilangin kerut di sini lho mbak Arum”, si ibu menyorongkan wajahnya dan menunjuk salah satu bagian wajah. Mbak Arum sampai mengernyitkan mata untuk mengamati. “Tidak ada kerutan sama sekali bu, kulit wajah ibu sangat sempurna. Ibu lanjutkan saja obat-obatan jalannya ya.” Jawab mbak Arum. Si ibu gendut tadi pulang dengan wajah berseri-seri.

“Kasihan, dia pasien yang sangat rajin datang. Kulitnya sangat bagus. Tapi mungkin karena posturnya, suaminya sama sekali tidak pernah memuji, makanya bolak balik ke sini mencari pujian kami ”, jelas mbak Arum padaku.

Seharian bekerja di situ hingga jam 7 malam, aku merasa sangat lelah. Bukan tubuhku tapi pikiranku. Tiba-tiba aku merinding. Di sini ternyata lebih parah, banyak orang sehat tapi memiliki jiwa yang sakit. Apa jadinya jika dilakukan pemeriksaan kejiwaan pada mereka ? Jangan-jangan pasien di rumah sakitku lebih waras daripada mereka yang berstatus waras di sini. Mendadak terbayang di benakku wajah pak Binsar “si juragan ayam gagal”, mas Sitok “penyair gagap”, Sinta “ratu bikini”, Yuni asistenku, pak Santoso yg kewarasannya kuragukan, dan semuanya. Aku tersenyum geli mengingat semua perilaku mereka. Benar kata papa, bekerja di mana saja sama. Sekarang aku mengerti nasehatnya.

Tiba-tiba aku merasa kangen pada RSJ. Kuputar nomer telpon ruangan kerjaku di RSJ, malam ini Yuni piket malam, aku ingin bicara dengannya.

“Ya haloooow….Brad Pitt di sini. Angelina Jolie sedang berkeliling memeriksa bangsal pasien. Ada yang bisa saya bantu ? Halooo ? Haloooo ?” suara di seberang itu, pak Santoso, aku hafal. Aku tertawa. “Brad Pitt, katakan pada Angelina Jolie, lusa Selena Gomez masuk kerja lagi, tolong sampaikan ya”. Ada suara teriakan hore keras sekali di seberang. Telpon kututup. Aku mengambil ponselku, mengetik pesan ke papa,”Besok aku pulang pa”. Aku tersenyum lega, kulihat langit, bulan nampak bersinar penuh, bisa jadi obyek lukisan baru “maestro” Adi , asal bukan hanya warna hitam yang disapukan ke kanvas.

*Tulisan ini hanya rekaan. Jika ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan. Dibuat sebagai penghargaan atas dedikasi & pengabdian para pengasuh RSJ di manapun berada*

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s